Mengenal Lebaran Bekasi, Tradisi Silaturahmi Warga Pinggiran Simbol Warisan Budaya Betawi
Mengulas Lebaran Bekasi, tradisi silaturahmi yang merawat identitas dan budaya Betawi di tengah masyarakat multikultur.

HALLONEWS.ID – Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri dan derasnya arus urbanisasi, Bekasi masih menyimpan satu tradisi yang terus bertahan, yakni Lebaran Bekasi. Lebih dari sekadar perayaan, tradisi ini menjadi ruang untuk merawat identitas dan menjaga akar budaya lokal.
Bagi sebagian orang, Lebaran mungkin selesai saat hari raya usai. Namun di Bekasi, cerita terus berlanjut melalui silaturahmi, tradisi, serta upaya mempertahankan jati diri di tengah masyarakat yang semakin majemuk.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, menyadari betul tantangan tersebut. Dengan populasi mencapai 3,4 juta jiwa dan kehadiran warga dari 48 negara, Bekasi kini menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, bukan sekadar kota penyangga ibu kota.
Di tengah keragaman itu, ia menegaskan pentingnya menjaga budaya lokal.
“Bekasi ini multikultur, tapi budaya kita harus tetap hidup. Lebaran Bekasi adalah bagian dari itu,” ujar Asep saat menghadiri perayaan Lebaran Bekasi ke-8 di Tambun Utara, Sabtu (5/4/2026).
Lebaran Bekasi bukanlah tradisi yang muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari akar budaya Betawi yang telah lama hidup di wilayah ini, mulai dari kebiasaan “nyorok” atau berkunjung ke orang tua, hingga tradisi berkumpul warga setelah Idulfitri.
Istilah “Lebaran” sendiri berasal dari kata lebar, yang bermakna usai atau lapang menandai berakhirnya Ramadan dan datangnya hari kemenangan. Ketika dipadukan dengan “Bekasi”, ia menjadi simbol perayaan khas masyarakat lokal yang hangat, sederhana, dan penuh makna.
Sebelum dikenal luas seperti sekarang, masyarakat telah lebih dulu mengenal tradisi serupa. Salah satunya adalah Lebaran Sekampung di kawasan Duta Kranji sejak 1990-an, di mana warga berbaris panjang di jalan untuk saling bersalaman dan bermaaf-maafan selama berjam-jam.
Ada pula Lebaran Betawi yang mulai digelar pada 2008 sebagai upaya pelestarian budaya, lengkap dengan kuliner khas seperti kerak telor dan kue rangi, serta pertunjukan seni seperti lenong dan gambang kromong.
Lebaran Bekasi kemudian hadir sebagai evolusi dari berbagai tradisi tersebut, menyatukan nilai-nilai lama dalam wajah baru yang lebih inklusif.

Di balik kemeriahan yang kini terlihat, tradisi ini lahir dari kegelisahan. Tokoh masyarakat Gabus Bekasi, Damin Sada, selaku inisiator kegiatan ini, melihat budaya lokal perlahan memudar akibat perubahan zaman dan derasnya arus modernisasi.
“Kalau budaya hilang, lalu apa identitas kita sebagai orang Bekasi?” ujarnya.
Sejak pertama kali digelar pada 2017, Lebaran Bekasi menjadi ruang pertemuan, tidak hanya antarwarga, tetapi juga antara masa lalu dan masa kini. Silaturahmi yang terjalin bukan sekadar formalitas, melainkan pengalaman nyata yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Saat ini, Bekasi telah menjadi wajah Indonesia modern kawasan industri, hunian urban, sekaligus rumah bagi ribuan pendatang.
Namun di balik itu, ada upaya menjaga keseimbangan antara modernitas dan warisan budaya.
Pemerintah daerah bahkan berencana mengalokasikan anggaran rutin agar Lebaran Bekasi dapat terus digelar setiap tahun. Langkah ini menjadi bukti bahwa budaya bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari pembangunan daerah.
Di Saung Jajaka, Kampung Gabus yang masih menyimpan jejak tradisi, Lebaran Bekasi kembali digelar. Warga datang, berjabat tangan, berbincang, dan tertawa bersama.
Di sanalah makna sesungguhnya terasa bahwa di tengah dunia yang semakin digital dan individual, kehangatan manusia tetap bertahan.
Lebaran Bekasi bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga cara masyarakat Bekasi menyampaikan pesan kepada masa depan: bahwa identitas, sekecil apa pun, tetap layak untuk dijaga. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa menjadi modern tidak harus berarti melupakan akar. (dul)
