Pramono Larang Sahur on The Road dan Sweeping Rumah Makan Selama Ramadan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melarang sejumlah aktivitas yang berpotensi menimbulkan keributan selama bulan suci Ramadan, termasuk Sahur on the Road dan sweeping rumah makan yang buka di siang hari.

Minggu, 15 Februari 2026 - 13:00 WIB
Pramono Larang Sahur on The Road dan Sweeping Rumah Makan Selama Ramadan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Hallonews/Feris Pakpahan).

HALLONEWS.ID – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan sikap tegas Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menjaga ketertiban dan ketenangan selama bulan suci Ramadan.

Ia meminta seluruh elemen masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun yang berpotensi memicu konflik, keributan, maupun keresahan di ruang publik.

“Pemprov DKI tidak akan memberikan toleransi terhadap kegiatan yang dinilai rawan gesekan sosial,” katanya dalam keterangan dikutip pada Minggu (15/2/2026).

Lanjutnya, sejumlah aktivitas secara eksplisit dilarang, mulai dari Sahur on the Road (SOTR) hingga aksi sweeping terhadap rumah makan yang tetap beroperasi pada siang hari selama Ramadan.

“Prinsip utama pemerintah daerah adalah membedakan kegiatan yang membawa kenyamanan dengan aktivitas yang berpotensi menciptakan gangguan keamanan,” ujarnya.

“Selama suatu kegiatan menimbulkan kerawanan dan kegaduhan, Pemprov DKI dipastikan tidak akan memberikan izin,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Pramono menekankan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat harmoni sosial dan kerukunan antarwarga.

Untitled 10
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Hallonews/Feris Pakpahan).

Penegasan ini disampaikan di tengah situasi Jakarta yang saat ini juga tengah bersiap menyambut perayaan Tahun Baru Imlek yang berlangsung pada 13 hingga 17 Februari, dengan puncak perayaan jatuh pada Selasa (17/2/2026).

“Setelah rangkaian Imlek berakhir, Jakarta akan memasuki fase baru dengan nuansa Ramadan dan persiapan Idulfitri,” jelasnya.

Selain pengamanan sosial, Pramono juga mengungkapkan agenda penguatan nilai keagamaan dan kultural.

“Pemprov DKI Jakarta mengusulkan penyelenggaraan haul bagi tokoh-tokoh Betawi dan ulama yang berjasa di Jakarta sebagai bagian dari upaya merawat tradisi dan sejarah keislaman di Ibu Kota,” ucapnya.

Usulan tersebut, lanjut Pramono, telah disampaikan dalam kegiatan Salat Subuh berjemaah sekaligus penutupan pengajian Subuh bersama para habaib dan alim ulama yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta.

Tak hanya itu, Pemprov DKI juga akan menghidupkan kembali Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) secara berjenjang dari tingkat bawah.

Selama ini, MTQ lebih sering digelar di level provinsi. Ke depan, kompetisi tersebut akan dimulai dari akar komunitas guna memperluas partisipasi masyarakat dan pembinaan generasi muda. (fer)