Sejarah Katedral Jakarta, Gereja Arsitektur Neo Gotik 1808 Simbol Toleransi Beragama
Gereja Katedral Jakarta merupakan Gereja Katolik ikonik bergaya Neo Gotik yang berdiri sejak 1808. Bangunan ini jadi saksi sejarah dan simbol toleransi beragama di Indonesia

HALLONEWS.ID – Pekan Suci 2026 di Gereja Katedral Jakarta hadir dengan sentuhan baru yang memikat. Misa Jumat Agung pada 3 April mengajak umat merenungkan wafatnya Yesus Kristus di kayu salib, simbol pengorbanan dan penebusan dosa manusia.
Sementara Minggu Paskah menjadi perayaan kebangkitan Kristus, membawa pesan kemenangan atas dosa dan harapan baru bagi seluruh umat Katolik. Tahun ini, Gereja Katedral menambahkan nuansa kreatif melalui Jalan Salib yang memadukan drama musikal dan seni tari.
Kepala Humas Katedral Jakarta Susyana Suwadie menjelaskan bahwa pertunjukan kali ini menyelipkan pesan penting tentang menjaga keutuhan alam ciptaan.
“Kami ingin umat merenungkan pengorbanan Kristus sekaligus meningkatkan kesadaran untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama,” ujar Susyana kepada wartawan, Jumat (3/4/2026).
Gereja menyediakan kapasitas hingga 5.000 kursi untuk menampung antusiasme umat yang hadir secara langsung. Dalam kesempatan ini, Hallonews mengulas sejarah Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol toleransi beragama dan warisan budaya di Indonesia.
Ikon Sejarah Bangunan Arsitektur Neo Gotik
Terletak tepat di depan Masjid Istiqlal, Gereja Katedral Jakarta bukan sekadar tempat ibadah, tetapi saksi sejarah panjang Katolik di Indonesia. Dengan nama resmi Santa Maria Diangkat ke Surga, gereja ini menjadi simbol toleransi antarumat beragama sekaligus warisan budaya.
Sejarah gereja ini berawal dari perintah Paus Pius VII pada 1807, ketika Pastor Nelissen diangkat sebagai prefek apostik Hindia Belanda.
Setahun kemudian, Pastor Nelissen dan Pastor Prinsen tiba di Batavia dan memulai pelayanan di sebuah rumah bambu yang dipinjam dari pemerintah di pojok barat daya Buffelvelt (sekarang menjadi gedung Kementerian Agama).

Gereja Katedral Jakarta juga menjadi simbol toleransi dan warisan budaya di Indonesia.
Karena keterbatasan dana, pembangunan gereja permanen tertunda. Umat Katolik akhirnya menempati bangunan lama milik Gubernemen di Jalan Kenanga, Senen, yang sebelumnya digunakan sebagai gereja Protestan berbahasa Melayu dan Belanda.
Renovasi dilakukan agar mampu menampung sekitar 200 jemaat, dan Pastor Nelissen memberkati gereja tersebut dengan Santo Ludovikus sebagai pelindungnya.
Meskipun selamat dari kebakaran hebat tahun 1826, gereja sempat mengalami kerusakan yang tidak segera diperbaiki karena tanahnya bukan milik gereja. Pada 9 April 1890, bangunan pertama runtuh.
Selama beberapa tahun, misa pun digelar di garasi kereta kuda, hingga pembangunan kembali dimulai pada pertengahan 1891. Bantuan dana dari Belanda memungkinkan pembangunan gereja baru dengan desain Neo Gotik, yang diresmikan pada 21 April 1901 oleh Monseignor Edmundus Sybrandus Luypen SJ.
Sejak saat itu, Gereja Katedral menjadi ikon arsitektur Eropa di tengah Jakarta, menampilkan pintu tinggi, jendela besar, dan altar utama yang masih digunakan hingga kini—pemberian Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies.
Gereja ini juga pernah menjadi tuan rumah bagi tokoh besar. Paus Paulus VI mengunjungi Katedral pada 1970, dan Paus Yohanes Paulus II hadir pada 1989 saat Sinode Pertama berlangsung.
Museum Katedral dibuka pada 28 April 1981 di lantai mesanin, menjadi pusat edukasi yang menceritakan sejarah Katolik di Jakarta. Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2002, sementara sejak 1993, gereja ini resmi menjadi bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah.
Selain fungsi ibadah, gereja kini menjadi pusat sejarah dan budaya, lengkap dengan perpustakaan dan museum yang menjelaskan perjalanan penyebaran ajaran Katolik di Ibu Kota. Terletak berdampingan dengan Masjid Istiqlal, Gereja Katedral menjadi simbol nyata toleransi dan harmoni antarumat beragama di Indonesia.
Dengan sejarah lebih dari dua abad, dari rumah bambu sederhana hingga bangunan Neo Gotik megah, Gereja Katedral Jakarta tetap menjadi saksi sejarah, simbol toleransi, dan warisan budaya yang harus dijaga.
Dari Pekan Suci hingga kegiatan rutin sehari-hari, suara umat yang bergema di dalamnya terus mengingatkan bahwa iman, sejarah, dan budaya dapat berjalan beriringan di jantung Ibu Kota Indonesia. (dul)
