Tips Kelola Keuangan Pasca Lebaran, Dosen IPB University Sarankan Evaluasi dan Pola 50-30-20
Pengeluaran membengkak usai Lebaran? Simak tips dari dosen IPB University tentang cara mengelola keuangan, mulai evaluasi anggaran hingga menerapkan pola 50-30-20

HALLONEWS.ID – Perayaan Lebaran kerap diikuti lonjakan pengeluaran yang berpotensi melebihi anggaran keluarga. Selain kebutuhan Hari Raya, muncul pula pengeluaran tak terduga yang dapat mengganggu kondisi keuangan rumah tangga.
Menyikapi hal tersebut, Wita Juwita Ermawati, dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, membagikan sejumlah tips pengelolaan keuangan pasca-Lebaran.
Langkah awal yang disarankan adalah menghitung total pengeluaran selama Lebaran dan memeriksa kondisi keuangan terkini.
Hal ini mencakup identifikasi apakah terdapat tabungan yang terpakai, pos keuangan yang terganggu, atau bahkan munculnya utang.
“Penting untuk memeriksa apakah ada pos keuangan yang terganggu, tabungan yang terpakai, atau bahkan utang yang muncul,” ujarnya melalui rilis yang diterima wartawan media ini Sabtu (21/3/2026).
Setelah evaluasi, masyarakat dianjurkan segera kembali menabung guna memulihkan kondisi finansial. Langkah ini juga penting untuk menjaga konsistensi terhadap tujuan keuangan yang telah direncanakan sebelumnya.
Dr Wita menjelaskan bahwa keluarga perlu mengidentifikasi kebutuhan rutin sehari-hari dan nonrutin seperti pendidikan, kesehatan, dan liburan.
Selanjutnya, kebutuhan tersebut harus diprioritaskan berdasarkan tingkat urgensi dan disesuaikan dengan kemampuan pendapatan.
“Setiap keluarga juga didorong untuk memiliki target keuangan jangka panjang, seperti dana pendidikan anak, dana pernikahan, dana ibadah dan investasi,” ujarnya.
Menurutnya, tabungan yang memadai menjadi kunci untuk menghindari ketergantungan pada utang, terutama dalam kondisi darurat.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan pinjaman online (pinjol) sebagai solusi instan atas masalah keuangan, karena berpotensi menambah beban finansial.
Dalam pengelolaan anggaran, Dr Wita merekomendasikan metode 50-30-20 yakni
50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan atau cicilan dan 20 persen untuk tabungan.
Jika pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, keluarga disarankan untuk
meninjau ulang pengeluaran tidak mendesak, mencari sumber penghasilan tambahan.
“Evaluasi keuangan secara berkala, terutama tahunan, dinilai penting sebagai dasar perencanaan keuangan di masa mendatang,” ungkapnya.
“Dengan disiplin dalam mengelola anggaran dan melakukan evaluasi rutin, masalah keuangan pasca-Lebaran diharapkan dapat diminimalkan, sehingga kondisi keuangan keluarga tetap stabil,” katanya lagi. (opy)
