60% Warga Bekasi Mudik, Pemkot Ingatkan Pendatang Wajib Punya “Skill”
Sekitar 60 persen warga Bekasi mudik Lebaran 2026. Pemkot memperingatkan pendatang baru harus punya keterampilan agar bisa bertahan.

HALLONEWS.ID – Kota Bekasi mendadak lengang. Sekitar 60 persen warganya meninggalkan kota untuk pulang kampung pada momen Lebaran 2026.
Fenomena ini menjadi gambaran besarnya arus mudik dari salah satu kota penyangga ibu kota setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Kota Bekasi mencapai sekitar 2,58 juta jiwa.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, memperkirakan sekitar 60 persen warga memilih kembali ke kampung halaman untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga.
“Perkiraan di angka 60 persen. Sisanya tetap berada di Bekasi untuk menjaga aktivitas kota,” ujar Tri, Jumat (20/3/2026).
Berkurangnya populasi sementara membuat ritme Kota Bekasi berubah drastis. Jalanan yang biasanya padat kini relatif lengang, sementara aktivitas ekonomi mengalami penurunan selama periode libur Lebaran.
Namun di balik itu, ada dinamika lain yang menjadi perhatian pemerintah daerah—yakni potensi lonjakan pendatang baru setelah arus balik.
Pendatang Wajib Punya “Skill”
Tri menegaskan, Bekasi tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari peluang hidup. Namun, ia memberi peringatan tegas: tanpa keterampilan (skill), persaingan akan semakin berat.
“Yang datang ke Bekasi diharapkan punya kemampuan (skill) dan bisa berkontribusi bagi pembangunan kota,” katanya.
Menurutnya, kondisi pasar kerja saat ini tidak mudah. Lapangan pekerjaan semakin terbatas, sehingga individu tanpa skill akan menghadapi tantangan besar.
“Kalau tidak punya ‘skill,’ tentu lebih berat. Dibutuhkan kreativitas dan inovasi agar bisa bertahan,” tegasnya.
Risiko Sosial Jadi Perhatian
Selain kemampuan kerja, kesiapan tempat tinggal juga menjadi perhatian penting. Pemerintah Kota Bekasi mendorong para pendatang untuk memiliki tempat tinggal yang layak, meskipun bersifat sementara.
Langkah ini untuk menghindari potensi masalah sosial seperti keterlantaran atau meningkatnya tekanan ekonomi di wilayah perkotaan.
Meski memberi peringatan, Tri memastikan Bekasi tetap menjadi kota terbuka bagi siapa pun yang ingin berkembang. Namun, kesiapan individu menjadi kunci utama untuk bisa bertahan dan bersaing.
“Silakan datang, tapi harus siap beradaptasi dan memberi kontribusi positif,” pungkasnya. (dul)
