Konflik Global Memanas, Kapolri dan Panglima TNI: Indonesia Harus Siap

Di tengah eskalasi konflik dunia, Kapolri dan Panglima TNI menegaskan Indonesia harus siap menghadapi dampaknya, dari diplomasi perdamaian hingga kesiapan militer.

Sabtu, 7 Maret 2026 - 10:02 WIB
Konflik Global Memanas, Kapolri dan Panglima TNI: Indonesia Harus Siap
Kolase foto Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang menyoroti kesiapan Indonesia menghadapi dinamika konflik global. Foto: Dokumen Hallonews

HALLONEWS.ID – Ketegangan geopolitik dunia yang terus meningkat membuat Indonesia bersiap menghadapi dampaknya, baik dari sisi keamanan, ekonomi, maupun diplomasi. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia.

Sejumlah pejabat tinggi negara menegaskan bahwa Indonesia tetap mengedepankan jalur diplomasi perdamaian, tetapi juga memperkuat kesiapan nasional untuk menghadapi dinamika global yang semakin tidak menentu.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo menegaskan Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif dalam merespons konflik internasional.

Ia mengatakan pemerintah berupaya mengambil peran dalam menciptakan perdamaian dunia, termasuk mendorong penyelesaian konflik di Timur Tengah.

“Pemerintah terus berusaha untuk bekerja keras sebagai negara nonblok untuk melaksanakan politik bebas dan aktif. Indonesia ingin berperan aktif untuk ikut mendamaikan Palestina dan Israel dengan usulan two state solution,” ujar Listyo Sigit dalam acara silaturahmi Ramadan bersama DPD KSPSI Jawa Barat di Bekasi, Jumat (7/3/2026).

Menurutnya, di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia harus mampu memperkuat kemandirian nasional.

“Dalam situasi global seperti saat ini, mau tidak mau Indonesia harus bisa mandiri, harus bisa berdiri di atas kaki sendiri,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Tentunya kita harus bisa mengelola seluruh sumber daya alam yang kita miliki untuk kemudian betul-betul kita manfaatkan untuk masyarakat kita, bangsa kita,” ujar Sigit.

Di sisi lain, Panglima TNI Agus Subiyanto mengingatkan bahwa konflik global saat ini tidak lagi sekadar perang konvensional.

Menurutnya, dunia kini menghadapi ancaman perang hibrida yang mencakup serangan siber, propaganda informasi, hingga operasi militer modern.

“Saat ini kita dihadapkan pada dinamika global yang diwarnai dengan rivalitas kekuatan besar, konflik global dan regional yang terus meningkat serta ancaman perang hibrida,” kata Agus saat memberikan amanat dalam upacara HUT ke-65 Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad) di Depok.

Karena itu, ia memerintahkan seluruh jajaran Kostrad untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi ancaman.

“Menghadapi ancaman multidimensi ini, saya perintahkan bahwa Kostrad harus selalu siap bertempur dan menang dalam setiap spektrum peperangan,” tegasnya.

Diplomasi dan Kerja Sama Internasional

Sementara itu, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menegaskan langkah diplomasi yang dilakukan pemerintah semata-mata untuk kepentingan nasional.

Menurutnya, kerja sama bilateral maupun multilateral yang dijalankan pemerintah bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dan industri nasional.

“Mau peran perdamaian yang diambil oleh Pak Presiden, mau diplomasi yang digunakan, maupun kerja sama bilateral dan multilateral, semua ini adalah untuk kepentingan nasional,” ujar Muhaimin.

Ia juga menilai kerja sama internasional penting untuk memastikan industri domestik tetap tumbuh dan ekspor terus meningkat di tengah situasi global yang penuh tantangan.

Indonesia Didorong Aktif Jadi Mediator

Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Achmad Baidowi mendorong Indonesia mengambil peran lebih besar dalam meredam konflik Timur Tengah melalui forum internasional seperti Board of Peace (BoP).

Menurutnya, konflik yang melibatkan negara-negara besar berpotensi mengguncang stabilitas energi global, terutama jika ketegangan berdampak pada jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.

“Indonesia yang tergabung dalam Board of Peace harus mampu memanfaatkannya untuk meredam ketegangan di kawasan Teluk tersebut,” kata Baidowi.

Ia berharap Indonesia dapat memaksimalkan peran diplomasi untuk mendorong dialog antara pihak-pihak yang berkonflik.

“Peran Indonesia bisa menjadi mediator konflik agar kedua pihak mau duduk untuk berunding, setidaknya menghentikan perang,” ujarnya.

Situasi global yang semakin tidak menentu menuntut Indonesia mengambil langkah strategis.

Di satu sisi, Indonesia tetap aktif mendorong perdamaian melalui diplomasi internasional. Namun di sisi lain, negara juga memperkuat ketahanan ekonomi, energi, dan pertahanan nasional.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa di tengah dunia yang terus bergejolak, Indonesia berupaya menjaga keseimbangan antara peran sebagai mediator perdamaian dan kesiapan menghadapi potensi ancaman global. (ren)