Dari Paham Radikal ke Jalan Damai, Kisah Haru Warga Binaan di Lapas Tangerang
Empat narapidana terorisme di Lapas Tangerang mengucapkan sumpah setia kepada NKRI dan mengaku ingin meninggalkan paham radikal demi hidup baru yang damai.

HALLONEWS.ID – Suasana emosional menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tangerang, Kota Tangerang, Banten saat empat narapidana kasus terorisme menyatakan sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Rabu (20/5/2026).
Di balik prosesi pengucapan ikrar tersebut, tersimpan perjalanan panjang perubahan cara pandang dan pembinaan yang dijalani para warga binaan selama berada di dalam lapas.
Mereka tidak hanya menjalani pembinaan disiplin, tetapi juga dibekali pemahaman kebangsaan, nilai toleransi, hingga keterampilan hidup agar mampu kembali ke masyarakat dengan semangat baru.
Salah satu warga binaan berinisial MD (50) mengaku masa pembinaan membuka pikirannya terhadap banyak hal yang sebelumnya tidak pernah dipahami secara utuh.
Ia mengatakan, dahulu dirinya memandang persoalan hanya dari satu sudut pandang sempit hingga akhirnya terseret pada pemahaman yang keliru.
“Sekarang saya sadar bahwa nilai persatuan, kemanusiaan, dan kebangsaan tidak boleh dipertentangkan dengan ajaran agama,” katanya pada Kamis(21/5/2026).
Menurut MD, proses pembinaan membuat dirinya memahami bahwa Islam mengajarkan kedamaian dan kehidupan harmonis bersama masyarakat.
Ia pun berharap setelah bebas nanti tetap mendapatkan pembinaan dan pengawasan agar tidak kembali terpapar jaringan radikal.
Prosesi ikrar berlangsung penuh khidmat di hadapan sejumlah pejabat dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Detasemen Khusus 88 Anti Teror, aparat penegak hukum, tokoh agama, serta berbagai unsur terkait lainnya.
Para warga binaan terlihat mencium Bendera Merah Putih usai mengucapkan sumpah setia kepada NKRI dan menandatangani dokumen ikrar.
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, mengatakan perubahan tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan pembinaan humanis mampu membuka jalan baru bagi warga binaan untuk kembali mencintai tanah air.
Menurutnya, pembinaan dilakukan secara berkelanjutan melalui kegiatan keagamaan, olahraga bersama, kerja sosial, hingga pelatihan keterampilan kerja.
Warga binaan juga diajarkan berbagai keterampilan seperti membuat kerajinan dari bahan daur ulang dan pengolahan makanan agar memiliki bekal hidup setelah bebas nanti.
“Harapan kami, mereka kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang damai, mandiri, dan produktif,” ujarnya.
Momen tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa perubahan selalu memiliki ruang, bahkan bagi mereka yang pernah tersesat jauh dari nilai persatuan bangsa. (fer)
