PMI Asal Banten Ngaku Disekap-Tak Digaji di Arab Saudi, Andra Soni Tindaklanjuti Kasus Atilah ke KBRI
Melalui video yang viral di media sosial, Atilah, seorang PMI asal Kota Serang mengaku disekap majikannya di Arab Saudi, tidak diizinkan pulang ke Indonesia, bahkan gajinya ditahan selama bekerja.

HALLONEWS.ID – Tangis Atilah, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Ketileng, Kelurahan Teritih, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten, mengundang perhatian publik.
Melalui video yang viral di media sosial, perempuan itu mengaku disekap majikannya di Arab Saudi, tidak diizinkan pulang ke Indonesia, bahkan gajinya ditahan selama bekerja.
Dalam video berdurasi 1 menit 26 detik, Atilah tampak menangis sambil memohon pertolongan kepada Gubernur Banten Andra Soni. Ia mengaku sudah bekerja di Riyadh selama dua tahun tujuh bulan, namun hingga kini tidak bisa kembali ke Tanah Air.
“Saya ditahan sama majikan, saya disekap tidak diperbolehkan pulang, gaji saya juga ditahan. Tolong saya Pak Gubernur, bantu saya,” ucap Atilah dalam tayangan dilihat Hallonews, Rabu (22/7/2026).
Video tersebut langsung memicu gelombang simpati publik sekaligus desakan agar pemerintah segera melakukan langkah penyelamatan terhadap PMI asal Banten tersebut.
Merespons viralnya video itu, Gubernur Banten Andra Soni bergerak cepat dengan menggelar rapat koordinasi bersama Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Banten, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Banten, serta Analis Hukum BP3MI di Ruang Kerja Gubernur, KP3B Curug, Kota Serang, Rabu (22/7/2026).
Dalam rapat tersebut, Andra meminta seluruh instansi terkait segera memastikan kondisi dan keberadaan Atilah, sekaligus mempercepat koordinasi dengan pemerintah pusat serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi.
“BP3MI dan Pemprov Banten segera berkoordinasi dengan KBRI agar persoalan yang dihadapi Ibu Atilah bisa segera ditindaklanjuti. Ini menjadi perhatian kita bersama karena ada warga Banten yang sedang menghadapi masalah di luar negeri,” kata Andra.
Ia mengungkapkan komunikasi dengan Atilah masih sempat dilakukan melalui WhatsApp. Namun, dalam beberapa jam terakhir pesan yang dikirim belum mendapat balasan sehingga pemerintah terus berupaya memastikan kondisi terkini perempuan tersebut.
Kepala BP3MI Banten Wirawan Negara Harahap mengatakan pihaknya telah mendatangi keluarga Atilah di Kota Serang dan menjalin komunikasi langsung dengan korban. BP3MI juga berkomitmen mengawal proses penanganan hingga Atilah dapat memperoleh perlindungan.
“Kami akan terus mengawal proses ini dan menyampaikan setiap perkembangan kepada Pak Gubernur,” ujarnya.
Menurut Wirawan, informasi terakhir menunjukkan Atilah diduga berada di kawasan perbatasan Arab Saudi dan Kuwait. Namun, lokasi tersebut masih diverifikasi sebelum diteruskan kepada KBRI melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Banten Septo Kalnadi menegaskan keselamatan Atilah menjadi prioritas utama pemerintah.
“Yang paling penting saat ini adalah memastikan pekerja migran kita selamat. Soal administrasi dan proses lainnya akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan,” kata Septo. (iin)
