Generasi Muda Jadi Garda Terdepan Lestarikan Batik, Kreativitas dan Media Sosial Jadi Kunci

Generasi muda didorong menjadi pelopor pelestarian batik melalui edukasi, kreativitas, dan pemanfaatan media sosial agar warisan budaya Indonesia tetap lestari sekaligus berkembang di era modern

Kamis, 23 Juli 2026 - 9:34 WIB
Generasi Muda Jadi Garda Terdepan Lestarikan Batik, Kreativitas dan Media Sosial Jadi Kunci
Batik Bogor dipromosikan oleh kaum muda. (Foto: Hallonews)

HALLONEWS.ID – Generasi muda dinilai memegang peranan strategis dalam menjaga kelestarian batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Upaya pelestarian tidak hanya diwujudkan dengan mengenakan batik, tetapi juga melalui pemahaman terhadap filosofi, makna motif, hingga proses pembuatannya.

Mojang Kota Bogor, Esterlita Widyaningtyas menilai, anak muda memiliki kemampuan untuk menjembatani nilai-nilai budaya dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana efektif untuk memperkenalkan batik kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Tujuan kami bukan hanya mengenalkan batik melalui konten digital, tetapi juga menjadikannya sebagai identitas budaya. Anak muda memiliki peran penting dalam menghubungkan warisan budaya dengan kehidupan generasi saat ini,” ujar Ester dikutip wartawan media ini Kamis (23/7/2026).

Ia menambahkan, pandangan bahwa batik identik dengan busana kuno mulai berubah.

Berbagai inovasi pada motif, warna, hingga desain pakaian membuat batik semakin diminati dan relevan digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut Ester, semakin banyak anak muda yang bangga mengenakan batik karena tampilannya kini lebih modern dan beragam.

Ketertarikan mereka juga tumbuh seiring meningkatnya rasa ingin tahu terhadap cerita dan filosofi yang terkandung dalam setiap motif batik.

Di sisi lain, pengrajin Batik Handayani, Sri Ratna Handayani, mengatakan edukasi membatik kepada anak-anak terus dilakukan melalui berbagai kegiatan praktik langsung.

Cara tersebut dinilai efektif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap batik sejak usia dini.

“Pada awalnya membatik memang terasa sulit, tetapi setelah mencobanya, banyak anak justru menikmati prosesnya. Karena itu, edukasi membatik perlu dikenalkan sejak dini agar rasa cinta terhadap batik tumbuh sejak kecil,” kata Ratna.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf, menegaskan bahwa regenerasi pembatik menjadi salah satu fokus utama dalam menjaga keberlanjutan batik.

Yayasan Batik Jawa Barat terus memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mempelajari teknik membatik sekaligus mengembangkan usaha berbasis batik.

Menurut Sendy, kreativitas generasi muda menjadi modal penting dalam menghadirkan inovasi desain maupun strategi promosi sehingga batik semakin dikenal luas tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang dimilikinya.

“Generasi muda memiliki kreativitas yang besar dalam mengembangkan desain dan promosi batik. Kehadiran mereka sangat penting agar batik Jawa Barat tetap lestari dan menjadi kebanggaan masyarakat,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara pelaku budaya, pengrajin, komunitas, dan generasi muda, pelestarian batik diharapkan tidak hanya mampu menjaga warisan budaya bangsa, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Dengan demikian, batik dapat terus berkembang sebagai identitas budaya Indonesia sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (opy)