Ari Supit: Sinergi MBG, Kopdes Merah Putih, dan GAMAS Jadi Fondasi Kuat Menuju Indonesia Emas 2045
Ari Supit menilai sinergi MBG, Kopdes Merah Putih, dan GAMAS menjadi fondasi pembangunan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.

HALLONEWS.ID – Ketua Umum Forum Makan Bergizi Gratis (MBG), Ari Supit menilai pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia membutuhkan pendekatan yang terintegrasi.
Menurutnya, penguatan gizi, ekonomi desa, dan ketahanan keluarga tidak bisa lagi dijalankan secara terpisah apabila pemerintah ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Ari mengatakan, sinergi antara Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih), dan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) menjadi model pembangunan yang saling menguatkan dari hulu hingga hilir.
“Anak menjadi tujuan utama pembangunan, sementara desa, keluarga, dan ekonomi lokal menjadi fondasi yang menopang keberhasilannya,” ujar Ari, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, Program MBG tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan gizi jutaan anak sekolah, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.
Dengan melibatkan koperasi, kelompok tani, peternak, nelayan, BUMDes, hingga pelaku UMKM sebagai pemasok bahan pangan, anggaran pemerintah akan berputar langsung di daerah.
Menurut Ari, skema tersebut menciptakan efek berganda bagi perekonomian desa. Petani memperoleh kepastian pasar, koperasi semakin berkembang, lapangan kerja bertambah, dan aktivitas ekonomi lokal meningkat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS), lanjutnya, menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 27 juta rumah tangga usaha pertanian, sementara sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Tanah Air.
Kondisi tersebut dinilai menjadi modal kuat untuk membangun rantai pasok pangan nasional berbasis produksi masyarakat.
Namun, Ari menegaskan pembangunan manusia tidak cukup hanya mengandalkan pemenuhan kebutuhan gizi. Peran keluarga, terutama keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.
Karena itu, ia menyambut baik hadirnya Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) yang digagas pemerintah. Menurutnya, program tersebut bukan sekadar aktivitas mengantar anak ke sekolah, tetapi simbol kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.
“Jika MBG memperkuat kesehatan fisik anak melalui asupan gizi, maka GAMAS membangun aspek psikologis, karakter, dan kedekatan emosional dalam keluarga,” katanya.
Ari menambahkan, Kopdes Merah Putih menjadi penghubung antara dua program tersebut karena mampu berperan sebagai pusat distribusi pangan sekaligus penggerak ekonomi desa.
Ia optimistis, apabila ketiga program itu dijalankan secara terpadu, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan anak sebagai penerima manfaat, tetapi juga petani, pelaku usaha, koperasi, hingga keluarga di seluruh Indonesia.
Menurut Ari, bonus demografi yang dimiliki Indonesia hanya akan menjadi keunggulan apabila dibarengi dengan pembangunan manusia yang berkualitas.
“Generasi Emas 2045 tidak lahir hanya dari besarnya anggaran negara. Mereka tumbuh karena ada makanan bergizi, ekonomi keluarga yang kuat, koperasi yang hidup, petani yang sejahtera, dan orang tua yang hadir mendampingi anak-anaknya,” tegasnya.
Ia menilai keberhasilan Indonesia menuju 2045 akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menghubungkan seluruh program pembangunan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
“Dari sawah hingga ruang kelas, dari koperasi hingga ruang keluarga, semuanya memiliki peran strategis dalam membangun manusia Indonesia yang sehat, produktif, berkarakter, dan mampu bersaing di tingkat global,” pungkas Ari. (agn)
