Hari Anak Nasional 2026, Menteri PPPA Ajak Keluarga Jadi Garda Terdepan Cegah Kekerasan terhadap Anak
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengajak keluarga memperkuat pengasuhan, menerapkan gerakan satu jam tanpa gadget, dan menghidupkan permainan tradisional untuk mencegah kekerasan terhadap anak.

HALLONEWS.ID – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 sebagai momentum memperkuat perlindungan anak melalui pengasuhan yang berkualitas, pendidikan karakter, dan kolaborasi lintas sektor.
Menurut Arifa, keluarga merupakan benteng pertama dan utama dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Karena itu, penguatan peran keluarga harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan orang tua, sekolah, pemerintah daerah, media, organisasi masyarakat, hingga dunia usaha.
“Perlindungan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama. Semua pihak harus bergandengan tangan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuh kembang anak,” kata Arifa saat diwawancarai Hallonews di Kantor Kementerian PPPA, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Arifa menilai meningkatnya laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak selalu menunjukkan bahwa angka kekerasan semakin tinggi.
Menurutnya, kondisi tersebut juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk melapor karena korban merasa akan mendapatkan perlindungan dan pendampingan.
“Semakin banyak laporan berarti masyarakat semakin percaya bahwa korban akan mendapat perlindungan dan pendampingan. Dengan adanya laporan, penanganan bisa dilakukan lebih cepat sekaligus mencegah munculnya korban-korban baru,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tingginya jumlah laporan tetap menjadi alarm bagi semua pihak bahwa ancaman kekerasan terhadap perempuan dan anak masih nyata di tengah masyarakat.
Karena itu, upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga melalui komunikasi yang sehat, penguatan karakter, serta penanaman nilai-nilai saling menghormati dan menyayangi sejak usia dini.
Dalam mendukung upaya tersebut, Kementerian PPPA terus memperkuat regulasi dan kebijakan sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 186, sekaligus mengoordinasikan pelaksanaannya bersama kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah.
Arifa menjelaskan, penanganan kasus dilakukan secara berjenjang sesuai kewenangan masing-masing daerah. Sementara itu, Kementerian PPPA akan turun langsung menangani perkara yang bersifat lintas provinsi, lintas negara, maupun kasus yang menjadi perhatian nasional.
Selain memperkuat regulasi, pemerintah juga terus mengoptimalkan layanan perlindungan melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), layanan konseling, serta jaringan relawan hingga tingkat akar rumput agar edukasi dan pendampingan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Kepada para orang tua, Arifa mengingatkan bahwa pengasuhan bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah dan seluruh anggota keluarga.
Menurutnya, kedekatan emosional antara orang tua dan anak merupakan fondasi utama dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan.
Sebagai bagian dari penguatan hubungan dalam keluarga, Kementerian PPPA terus mengampanyekan gerakan “Satu Jam Berkualitas Tanpa Gadget”.
Program ini mengajak keluarga meluangkan waktu setiap hari untuk berinteraksi tanpa telepon genggam sehingga komunikasi, perhatian, dan ikatan emosional antara orang tua dan anak semakin kuat.
Di sisi lain, Arifa juga mendorong sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat menghidupkan kembali permainan tradisional yang sarat nilai budaya.
Menurutnya, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter, kemampuan bersosialisasi, sportivitas, kerja sama, serta menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini.
“Anak-anak perlu lebih banyak ruang untuk bermain, berinteraksi, dan belajar bersama teman-temannya. Permainan tradisional menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget sekaligus membentuk karakter yang kuat,” tuturnya.
Menutup pesannya, Arifa mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Anak Nasional 2026 sebagai titik awal memperkuat gerakan bersama dalam melindungi anak Indonesia.
Menurutnya, hanya melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa, Indonesia dapat mewujudkan generasi yang sehat, aman, berkarakter, dan siap menyongsong masa depan. (agn)
