Forum Akademisi IPB Dorong Program Makan Bergizi Gratis Lebih Terarah

Empat poin seruan akademisi IPB dengan menjunjung tinggi prinsip kejujuran, etika, obyektifitas ilmiah dan keberpihakan pada kepentingan bangsa

Rabu, 6 Mei 2026 - 21:33 WIB
Forum Akademisi IPB Dorong Program Makan Bergizi Gratis Lebih Terarah
Forum akademisi IPB serukan dukungan bagi program makan bergizi gratis (MBG). (hallonews/yopy)

HALLONEWS.ID – Polemik makan bergizi gratis (MBG) harus tepat sasaran melalui integrasi data penerima manfaat, mendapat tanggapan Kementerian Dalam Negeri.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto kepada wartawan usai menghadiri acara di perpustakaan Kota Bogor Rabu (6/5/2026).

“MBG ini terus diperbaiki tata kelolanya, agar tepat sasaran,” ujarnya.

Untuk mencapai itu, menurut Bima, data-data harus terintegrasi, termasuk data dari BPS terkait target sasaran, kelompok umur, dan penerima manfaat.

“Saat ini, penerima manfaat juga semakin diperluas, tidak hanya anak-anak sekolah, tetapi juga ibu hamil dan kelompok lainnya,” kata Bima sambil menegaskan, integrasi data menjadi sangat penting.

Ditempat terpisah, alumni akademisi IPB di IICC Botani Square lantai dua pada Rabu sore menegaskan komitmen penuh, mendukung program MBG.

Seruan forum akademisi IPB melalui Prof Muhammad Firdaus selaku juru bicara ini, karena program MBG yang merupakan program strategis nasional, dinilai mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.

Untitled 47 1

Empat poin seruan akademisi dengan menjunjung tinggi prinsip kejujuran, etika, obyektifitas ilmiah dan keberpihakan pada kepentingan bangsa ini yakni,

  1. Mendukung program peningkatan gizi rakyat Indonesia secara tepat sasaran.
  2. Menjadikan program ini sebagai program jangka panjang lintas pemerintah, untuk meningkatkan status gizi masyarakat Indonesia sebagai wahana peningkatan derajat kesehatan, kecerdasan, produktivitas kerja, dan daya saing bangsa.
  3. Usaha peningkatan gizi melalui pemberian makanan secara massal adalah beresiko. Maka cara meminimumkan risiko bisa dilakukan dengan, menjamin pihak yang terlibat memiliki pengetahuan yang memadai tentang gizi dan keamanan pangan, mendorong penerapan standar gizi mulai dari pengadaan, penyimpanan, pengolahan hingga distribusinya, serta meningkatkan peran institusi sekolah baik monitoring maupun evaluasi dan menyelenggarakan MBG dengan kapasitas terukur.
  4. Lakukan monitoring dan evaluasi secara sistematis berkelanjutan dengan sistem pemantauan kesehatan serta gerekan hidup sehat di sekolah dan masyarakat.

Sementara Prof. Illah Sailah menegaskan, dukungan forum akademisi IPB ini, bukan pada tataran kampus berbasis pertanian ini, ikut dalam membangun SPPG.

“Kampus itu wahana pendidikan. Kami forum akademisi IPB hanya ingin didengar suara dan saran serta masukan, agar benar-benar program MBG ini bermanfaat. Harus tepat sasaran dan monitoring serta evaluasi yang ketat,” paparnya.

Menurut Prof Illah, ada banyak cara agar makanan yang diberikan bagi siswa masih higienis. Misalnya, makanan disajikan secara prasmanan. Siswa bisa mengambil menu, sesuai dengan seleranya.

“Pertanyaannya, apakah semua sekolah siap dengan pola ini?,” tanya guru besar IPB University ini. (opy)