Hujan Lebat Diprediksi Melanda Indonesia hingga 8 Juni, BMKG Minta Warga Siaga
BMKG memprediksi hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah Indonesia hingga 8 Juni 2026. Warga diminta waspada terhadap banjir, longsor, dan angin kencang.

HALLONEWS.ID – Meski Indonesia mulai memasuki musim kemarau, ancaman hujan lebat ternyata belum sepenuhnya berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan.
Berdasarkan prakiraan terbaru BMKG, periode 3 hingga 4 Juni 2026 diperkirakan diwarnai hujan di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Beberapa daerah bahkan berpotensi mengalami hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang.
“Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur,” tulis BMKG, dikutip Hallonews, Rabu (3/6/2026).
Kemudian Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Sementara periode 5 hingga 8 Juni 2026, potensi hujan masih berlanjut dan diperkirakan meluas ke sejumlah wilayah lain, termasuk Jakarta dan Jawa Barat. Kondisi ini menunjukkan bahwa cuaca di Indonesia masih sangat dinamis meskipun musim kemarau mulai berlangsung.
BMKG menjelaskan, fenomena El Nino saat ini mulai menunjukkan pengaruh terhadap pola cuaca nasional. Kondisi tersebut ditandai dengan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Selain itu, penguatan Monsun Australia turut membawa massa udara yang lebih kering sehingga cuaca panas mulai terasa di beberapa daerah.
”Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara maksimum tercatat mencapai 35 hingga 36,4 derajat Celsius di sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara, Riau, Banten, Sulawesi Tengah, dan Papua Selatan,” jelas BMKG.
Meski demikian, peluang terbentuknya hujan masih cukup tinggi akibat pengaruh berbagai dinamika atmosfer regional. BMKG mencatat aktivitas gelombang atmosfer seperti Kelvin dan Rossby Ekuatorial masih aktif dan berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan.
Tak hanya itu, potensi terbentuknya sirkulasi siklonik di Laut China Selatan dan wilayah Samudra Pasifik utara Papua juga dapat meningkatkan pembentukan awan hujan. Kondisi tersebut berisiko memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, hingga petir.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, tanah longsor, maupun pohon tumbang, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami hujan dengan intensitas tinggi.
Sementara masyarakat yang berada di daerah yang sudah memasuki musim kemarau, BMKG mengimbau untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung, menggunakan pelindung seperti topi atau tabir surya, serta menjaga asupan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi.
Masyarakat juga diimbau untuk rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG guna mengantisipasi perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu. (dul)
