Kenapa Jabodetabek Terasa Sangat Gerah? BMKG Jelaskan Faktor Pemicunya

BMKG mengungkap penyebab cuaca panas menyengat di Jabodetabek. Kombinasi musim kemarau dan El Nino membuat suhu terasa lebih gerah hingga September.

Jumat, 26 Juni 2026 - 8:30 WIB
Kenapa Jabodetabek Terasa Sangat Gerah? BMKG Jelaskan Faktor Pemicunya
Prakiraan angin lapisan 3.000 di Indonesia. Foto/BMKG for Hallonews

HALLONEWS.ID – Sejumlah warga di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) belakangan mengeluhkan cuaca yang terasa jauh lebih panas dan gerah dibandingkan hari-hari biasanya.

Kondisi ini bukan sekadar perasaan, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor iklim yang sedang terjadi. Pada saat yang sama, musim kemarau membuat langit lebih cerah dan intensitas penyinaran matahari ke permukaan bumi menjadi lebih tinggi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan peningkatan suhu yang dirasakan masyarakat berkaitan dengan pergerakan semu tahunan matahari yang posisinya semakin mendekati wilayah Pulau Jawa.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut hawa panas atau sumuk diperkirakan masih akan dirasakan hingga akhir September 2026.

“Memasuki September hingga Oktober, suhu udara berpotensi terasa semakin menyengat ketika posisi matahari berada tepat di atas wilayah Jawa,” kata Ardhasena dalam keterangannya, dikutip Hallonews, Jumat (26/6/2026).

Selama Juli hingga Agustus, wilayah Jakarta dan sekitarnya juga mengalami karakteristik khas musim kemarau berupa udara yang lebih kering dan berkurangnya kelembapan.

Minimnya tutupan awan menyebabkan sinar matahari lebih leluasa mencapai permukaan sehingga suhu siang hari terasa lebih terik.

BMKG menilai kondisi tersebut merupakan pola iklim tahunan yang lazim terjadi di wilayah hilir Pulau Jawa ketika memasuki puncak musim kemarau.

“Namun, pada 2026 fenomena tersebut diperkuat oleh pengaruh El Nino yang membuat musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dari biasanya,” ungkapnya.

Efek El Nino tidak hanya memperpanjang periode cuaca panas, tetapi juga meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah. Di Jabodetabek, kondisi ini membuat masyarakat merasakan udara yang lebih panas dalam rentang waktu yang lebih lama.

Data BMKG menunjukkan Jakarta Utara memasuki musim kemarau sejak Mei 2026, sedangkan Jakarta Selatan mulai mengalaminya pada Juni 2026. Seiring berjalannya musim kemarau, peluang hujan menjadi semakin kecil sehingga pendinginan alami dari curah hujan berkurang.

Selain berdampak pada suhu udara, berkurangnya hujan turut memengaruhi kualitas udara. Tanpa hujan yang berfungsi membantu mengendapkan partikel pencemar di atmosfer, polusi dari kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan sumber emisi lainnya berpotensi menumpuk.

Dalam kondisi angin yang lemah, konsentrasi polutan dapat meningkat dan memicu penurunan kualitas udara, terutama di kawasan perkotaan seperti Jakarta dan sekitarnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh selama musim kemarau dengan memperbanyak konsumsi air putih, menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, serta memantau informasi cuaca resmi sebagai acuan dalam beraktivitas sehari-hari. (dul)