MBG Wajib Pakai Produk Lokal, Telur Peternak Jadi Prioritas

Badan Gizi Nasional menegaskan Program MBG mengutamakan telur dan bahan pangan produksi lokal guna mendukung gizi masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi peternak daerah.

Sabtu, 16 Mei 2026 - 10:30 WIB
MBG Wajib Pakai Produk Lokal, Telur Peternak Jadi Prioritas
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap mengedepankan penggunaan telur dan bahan pangan. Foto: BGN for Hallonews

HALLONEWS.ID – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap mengedepankan penggunaan telur dan bahan pangan dari hasil produksi dalam negeri.

Seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diminta mempriotaskan pasokan dari peternak dan pelaku usaha lokal guna mendukung perputaran ekonomi daerah.

“SPPG diarahkan untuk mengutamakan produk lokal, termasuk kebutuhan telur dalam pelaksanaan Program MBG,” kata Dadan di Jakarta, Jumat (13/5/2026).

Ia menjelaskan, meskipun sejumlah mitra pelaksana memiliki koperasi atau jaringan distribusi sendiri, penyerapan bahan pangan tetap diharapkan berasal dari peternak lokal di masing-masing wilayah.

Menurut Dadan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden agar kebutuhan telur dalam Program MBG dipenuhi dari produksi nasional.

“Sesuai arahan Presiden, kebutuhan telur untuk MBG wajib mengutamakan hasil produksi lokal,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong agar telur lebih sering dimasukkan dalam menu MBG sebagai sumber protein bagi penerima manfaat program.

Meski demikian, BGN tidak menetapkan satu jenis menu yang berlaku secara nasional. Lembaga tersebut hanya menetapkan standar kandungan gizi, sementara menu disusun berdasarkan potensi pangan dan kebiasaan konsumsi di tiap daerah.

Untuk menjaga kualitas gizi, BGN menempatkan tenaga ahli gizi di setiap SPPG. Mereka bertugas memastikan menu yang disajikan memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus memanfaatkan bahan pangan lokal.

“BGN tidak membuat menu nasional yang seragam. Kami menetapkan standar komposisi gizinya, sedangkan penyusunan menu disesuaikan dengan potensi daerah dan preferensi masyarakat setempat,” jelas Dadan.

Ia menilai penggunaan produk lokal tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membantu menjaga stabilitas harga hasil peternakan di tingkat produsen.

Menurutnya, Program MBG harus mampu memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Dadan juga menyebut produksi telur nasional saat ini masih mencukupi kebutuhan Program MBG, selama distribusi dan penyerapan berjalan optimal. Karena itu, seluruh pelaksana program diminta memperkuat kerja sama dengan peternak lokal.

“Selamat produksi lokal tersedia dan kualitasnya memenuhi standar, maka itu yang harus diprioritaskan. Program MBG memang dirancang untuk ikut memberdayakan ekonomi masyarakat daerah,” tandasnya. (agn)