Menlu Sugiono: Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Investigasi PBB

Pemerintah Indonesia menyampaikan duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon dan mendesak Dewan Keamanan PBB menggelar rapat serta melakukan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.

Sabtu, 4 April 2026 - 22:15 WIB
Menlu Sugiono: Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Investigasi PBB
Menlu Sugiono memberikan keterangan pers di Bandara Soekarno-Hatta terkait gugurnya prajurit TNI di Lebanon. Foto: BPMI Setpres/Cahyo for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga personel penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.

Ketiga personel TNI yang gugur tersebut adalah Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Kepala Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Dua Anumerta Farizal Rhomadon.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyampaikan belasungkawa kepada keluarga prajurit yang gugur saat memberikan keterangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Sabtu (4/4/2026).

“Kita semua mengucapkan dukacita yang sedalam-dalamnya bagi keluarga yang ditinggalkan. Berharap dan berdoa semoga para kusuma bangsa ini arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan keluarganya diberi kesehatan serta kesabaran dalam menghadapi musibah ini,” ujar Sugiono.

Selain tiga prajurit yang gugur, pemerintah juga menerima laporan bahwa terdapat prajurit TNI lainnya yang mengalami luka-luka dalam insiden tersebut dan saat ini masih dalam proses investigasi oleh UNIFIL.

“Tadi malam juga saya menerima laporan bahwa ada prajurit TNI yang terluka, dan penyebab dari insiden tersebut masih diinvestigasi oleh UNIFIL,” kata Sugiono.

Menanggapi insiden tersebut, pemerintah Indonesia melalui Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York telah mengambil langkah diplomatik dengan meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk menggelar rapat luar biasa guna membahas serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian.

Menurut Sugiono, permintaan Indonesia tersebut telah disetujui oleh Prancis sebagai negara penanggung jawab isu Lebanon di Dewan Keamanan PBB.

“Rapat luar biasa Dewan Keamanan yang intinya, pertama kita mengutuk keras serangan yang dilakukan terhadap penjaga perdamaian UNIFIL. Kemudian kita juga menuntut supaya dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian,” jelasnya.

Sugiono menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian memiliki mandat untuk menjaga perdamaian, bukan melakukan perang, sehingga keselamatan mereka harus dijamin oleh semua pihak yang berkonflik.

“They are peacekeeping, not peacemaking. Mereka tidak dilengkapi kemampuan untuk melakukan peacemaking. Perlengkapan dan pelatihan mereka adalah untuk menjaga perdamaian, dan ini merupakan mandat dari PBB,” kata Sugiono.

Pemerintah Indonesia juga mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah konflik, khususnya dalam misi UNIFIL di Lebanon.

Indonesia menegaskan bahwa keselamatan personel penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama dan pengorbanan para prajurit dalam misi perdamaian dunia tidak boleh sia-sia. (ren)