Menteri PPPA: Gadget Canggih Tak Menjamin Anak Aman, Benteng Moral Lebih Penting

Menteri PPPA Arifah Fauzi mengingatkan perlindungan anak di era digital tidak cukup dengan membatasi gadget. Orang tua diminta memperkuat karakter, akhlak, dan literasi digital sejak dini.

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:32 WIB
Menteri PPPA: Gadget Canggih Tak Menjamin Anak Aman, Benteng Moral Lebih Penting
Menteri PPPA Arifah Fauzi menyampaikan keterangan pers pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). Hallonews/prana

HALLONEWS ID – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan bahwa perlindungan anak di era digital tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gawai
maupun media sosial.

Anak-anak harus dibekali fondasi karakter yang kuat agar mampu melindungi diri dari berbagai ancaman di ruang digital.

Pernyataan tersebut disampaikan Arifah saat konferensi pers dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” di Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).

Menurut Arifah, pemerintah telah menggulirkan berbagai program untuk memperkuat perlindungan anak, di antaranya Gerakan Satu Jam Berkualitas Tanpa Gadget dan Gerakan Nasional Ruang Aman Anak (Gernas RANA).

Ia mengingatkan masih banyak orang tua yang menganggap memberikan gawai terbaru kepada anak sebagai bentuk kasih sayang.

Padahal, tanpa pendampingan dan literasi digital yang memadai, anak berisiko mengakses konten yang tidak sesuai dengan usia mereka.

“Edukasi tidak hanya ditujukan kepada anak, tetapi juga kepada para orang tua agar lebih memahami risiko penggunaan perangkat digital sejak usia dini,” ujar Arifah.

Arifah juga menyoroti masih banyaknya anak di bawah usia 16 tahun yang memiliki akun media sosial dengan mengakali sistem menggunakan identitas atau akun lain. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengawasan berbasis teknologi saja tidak akan cukup.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun “benteng dari dalam hati” melalui penanaman nilai agama, norma, budi pekerti, dan akhlak sejak dini.

Dengan karakter yang kuat, anak diharapkan mampu mengendalikan diri meski tidak selalu berada dalam pengawasan orang tua.

“Kita tidak bisa terus membangun pagar yang tinggi, karena anak selalu punya cara untuk melompatinya. Yang harus dibangun adalah pagar di dalam hati mereka,” tegasnya.

Arifah menambahkan, perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama.

Pemerintah bersama kementerian dan lembaga terkait terus menggencarkan sosialisasi kepada sekolah, keluarga, dan masyarakat agar anak-anak terlindungi di empat ruang utama, yakni keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan ruang digital. (min)