Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, BMKG Ungkap Wilayah Rawan Karhutla

BMKG memperingatkan musim kemarau 2026 lebih kering dan panjang. Jumlah titik panas karhutla mencapai 908 lokasi, dengan puncak risiko kebakaran Agustus hingga September.

Minggu, 7 Juni 2026 - 14:37 WIB
Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang, BMKG Ungkap Wilayah Rawan Karhutla
BMKG for Hallonews foto: Peta potensi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

HALLONEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa kondisi cuaca tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan biasanya, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan musim kemarau tahun ini berlangsung pada periode April hingga September dengan karakteristik curah hujan yang lebih rendah dari kondisi normal.

Menurutnya, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering. Selain datang lebih awal, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kondisi tahun ini diperkirakan lebih kering dari normal sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla),” kata Teuku Faisal, Minggu (7/6/2026).

Peluang munculnya fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026. Fenomena tersebut berpotensi memperparah kondisi kekeringan dan meningkatkan kerawanan karhutla, terutama di wilayah yang selama ini menjadi langganan kebakaran saat musim kemarau.

Seiring meningkatnya suhu dan berkurangnya curah hujan, jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia juga menunjukkan tren kenaikan.

Berdasarkan data sistem pemantauan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sebanyak 908 titik panas terdeteksi dalam 24 jam terakhir. Jumlah tersebut bertambah 250 titik dibandingkan periode sebelumnya.

Data yang berasal dari pemantauan satelit menunjukkan sebagian besar hotspot berada pada kategori tingkat kepercayaan sedang, sementara puluhan titik lainnya masuk kategori tinggi yang berpotensi mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan.

Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, mencapai 115 titik. Disusul Kalimantan Timur dengan 106 titik panas dan Kalimantan Barat sebanyak 63 titik.

Selain itu, puluhan titik panas juga terpantau di Papua Selatan, Sulawesi Tengah, Riau, dan Sumatera Barat.

BMKG memperkirakan periode paling rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan akan berlangsung mulai Mei hingga September 2026.

Risiko tertinggi diprediksi terjadi pada Agustus hingga September ketika wilayah yang mengalami curah hujan rendah semakin meluas.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BMKG terus memperkuat sistem pemantauan cuaca dan hotspot berbasis satelit yang diperbarui secara berkala.

Lembaga ini juga menyediakan sistem peringatan dini guna membantu pemerintah daerah dan instansi terkait dalam melakukan langkah pencegahan lebih awal.

BMKG mengimbau seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha hingga masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau berlangsung agar potensi kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan sedini mungkin. (dul)