Putri Candrawathi, Merajut Harapan dari Balik Jeruji
Putri Candrawathi bangkit dari balik jeruji dengan memberdayakan warga binaan lewat kerajinan tangan, menghadirkan harapan, kepercayaan diri, dan kesempatan kedua.

HALLONEWS.ID – Bagi banyak orang, penjara atau lembaga pemasyarakatan kerap dipandang sebagai titik akhir dari sebuah perjalanan hidup ruang di mana kebebasan terenggut dan harapan seolah ikut terpenjara.
Namun, bagi Putri Candrawathi, justru di tempat inilah sebuah awal baru bisa tumbuh.
Dari balik jeruji, ia menemukan makna lain dari kehidupan: ruang belajar, ruang refleksi, sekaligus ruang untuk membangun kembali martabat yang sempat runtuh.
Dengan pendekatan sederhana namun penuh konsistensi, Putri menggerakkan para warga binaan perempuan untuk bangkit melalui karya—khususnya kerajinan tangan.
Berawal dari rasa ingin tahu terhadap potensi yang ada di dalam lapas, Putri mulai menggali peluang. Ia bahkan mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan merajut saat kali pertama masuk. Namun keterbatasan itu tidak menjadi penghalang, melainkan titik awal pembelajaran.
“Saya belajar dari nol. Dari teman-teman di sini, dari buku, bahkan dari keluarga yang datang menjenguk. Ini proses yang membuktikan bahwa kita selalu bisa berkembang, di mana pun kita berada,” ujarnya kepada Hallonews.
Dari benang, kain, hingga bahan daur ulang, lahirlah berbagai produk kreatif seperti tas rajut, aksesori, hingga dekorasi. Namun lebih dari sekadar produk, setiap karya mengandung nilai pemulihan diri. Setiap simpul rajutan menjadi simbol kesabaran, setiap pola menjadi cerminan ketekunan.
Putri menegaskan bahwa persoalan utama yang dihadapi warga binaan perempuan bukan hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga beban psikologis yang berat rasa bersalah, stigma sosial, hingga hilangnya kepercayaan diri.
“Jeruji besi itu nyata, tapi yang lebih berat adalah jeruji di dalam diri mereka. Rasa tidak berharga, rasa malu, itu yang harus kita bantu lepaskan,” katanya.
Melalui kegiatan kreatif, perubahan perlahan mulai terlihat. Warga binaan yang sebelumnya pasif kini jadi lebih aktif, saling mendukung, dan berani mengekspresikan ide.
Bahkan beberapa di antaranya mulai mampu menciptakan desain sendiri dan berinovasi dengan bahan yang tidak biasa.
Putri juga tidak berhenti pada proses produksi. Ia berupaya menjembatani karya-karya tersebut agar dikenal masyarakat luas. Dengan memanfaatkan jejaring pribadi, termasuk bantuan keluarga, produk warga binaan mulai dipasarkan, bahkan mendapat respons positif dari publik.
“Ketika karya mereka dihargai orang luar, itu bukan soal uang semata. Itu adalah pengakuan bahwa mereka masih punya nilai,” tambahnya.
Menurut Putri, pengakuan tersebut menjadi bekal penting bagi warga binaan saat kembali ke masyarakat. Rasa percaya diri yang tumbuh dari proses berkarya akan membantu mereka menghadapi stigma sosial yang masih kuat.
Ia juga mendorong adanya sistem pembinaan yang lebih terstruktur, seperti pencatatan keterampilan atau “rapor karya” bagi setiap warga binaan. Hal ini diyakini dapat menjadi referensi saat mereka mencari pekerjaan setelah bebas.
“Kalau ada catatan kemampuan yang jelas, itu bisa jadi jembatan mereka untuk mendapatkan kesempatan kedua di dunia kerja,” jelasnya.

Bukan Tanpa Ujian
Perjalanan Putri sendiri bukan tanpa ujian. Ia harus menghadapi kenyataan pahit terpisah dari keluarga, termasuk anak-anak yang sempat mengalami tekanan psikologis akibat situasi yang dihadapi.
Namun justru dari titik terendah itu, ia menemukan panggilan untuk menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain.
“Saya selalu percaya, seburuk apa pun keadaan kita, pasti ada orang lain yang lebih membutuhkan. Dari situ saya ingin hadir, minimal membawa hal positif,” tuturnya.
Dalam banyak hal, semangat yang ia bawa sejalan dengan perjuangan Raden Ajeng Kartini. Jika Kartini memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan, maka Putri melanjutkan nilai tersebut dalam konteks pemberdayaan di ruang yang paling terbatas.
Ia melihat lembaga pemasyarakatan bukan sebagai tempat hukuman semata, melainkan “sekolah kehidupan” yang memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Di sana, setiap individu memiliki peluang untuk berubah—asal diberi ruang dan dukungan.
Kini, suasana di dalam lapas yang dahulu sunyi perlahan berubah. Aktivitas kreatif, diskusi, dan semangat kebersamaan mulai mengisi hari-hari para warga binaan. Harapan yang dulu terasa jauh kini mulai tumbuh kembali.
Putri pun menegaskan bahwa pemberdayaan ini bukan sekadar program sosial, melainkan bagian dari proses kemanusiaan yang lebih besar.
“Kita tidak bisa menghapus masa lalu, tapi kita bisa membangun masa depan. Dan itu dimulai dari hal kecil—dari tangan yang mau berkarya, dari hati yang mau bangkit,” katanya.
Di setiap produk yang lahir dari balik jeruji, tersimpan pesan yang kuat: bahwa harapan tidak pernah benar-benar terpenjara. Selama masih ada kemauan untuk berubah dan kesempatan untuk mencoba, selalu ada jalan untuk merajut kembali kehidupan yang lebih bermartabat. (gin)
