Fenomena Blue Moon Akan Hiasi Langit Indonesia pada Akhir Mei 2026

Fenomena Blue Moon diprediksi muncul pada 31 Mei 2026 dan dapat diamati dari Indonesia. Simak penjelasan ilmiah, sejarah, serta tips menyaksikan bulan purnama langka ini

Senin, 18 Mei 2026 - 23:00 WIB
Fenomena Blue Moon Akan Hiasi Langit Indonesia pada Akhir Mei 2026
Fenomena Blue Moon Diprediksi Muncul Akhir Mei 2026. Foto: Hallonews/Freepik

HALLONEWS.ID – Fenomena astronomi langka bernama Blue Moon diperkirakan kembali menghiasi langit malam pada 31 Mei 2026.

Peristiwa ini menjadi perhatian para pengamat langit karena kemunculannya yang tidak terlalu sering, yakni sekitar satu kali dalam dua hingga tiga tahun.

Blue Moon dapat disaksikan dari berbagai wilayah Indonesia selama kondisi cuaca mendukung dan langit dalam keadaan cerah.

Dalam dunia astronomi modern, Blue Moon merupakan istilah untuk menyebut bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender. Fenomena ini muncul karena siklus fase Bulan berlangsung sekitar 29,5 hari.

Dalam kondisi tertentu, siklus tersebut memungkinkan terjadinya dua kali bulan purnama dalam satu bulan yang sama.

Pada Mei 2026, bulan purnama pertama diperkirakan terjadi pada awal bulan, sementara purnama kedua muncul pada 31 Mei 2026.

Karena tergolong jarang, masyarakat Barat mengenal ungkapan “once in a blue moon” yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Meski namanya Blue Moon, fenomena ini tidak membuat Bulan otomatis berubah menjadi biru.

Istilah tersebut lebih merujuk pada penamaan astronomi daripada perubahan warna secara langsung.

Namun dalam sejarah, Bulan pernah terlihat kebiruan akibat kondisi atmosfer tertentu. Salah satu peristiwa terkenal terjadi setelah letusan Letusan Krakatau 1883 yang menyebarkan abu vulkanik ke atmosfer dalam jumlah besar.

NASA menyebut fenomena tersebut pernah terjadi setelah Letusan Krakatau 1883 yang menyebarkan abu vulkanik hingga puluhan kilometer ke atmosfer.

Partikel abu berukuran sangat kecil menyaring cahaya merah dan membuat Bulan terlihat biru kehijauan dari Bumi.

Laporan Natural History Museum menyebut dampak letusan Krakatau tidak hanya memengaruhi Indonesia, tetapi juga kondisi atmosfer dunia selama berbulan-bulan.

Partikel abu berukuran sangat kecil diketahui mampu menyaring cahaya merah sehingga warna biru lebih dominan terlihat dari permukaan bumi.

Fenomena bulan berwarna kebiruan juga pernah tercatat setelah letusan beberapa gunung berapi besar dunia, seperti Gunung St. Helens, Gunung El Chichón, dan Gunung Pinatubo.

Abu vulkanik yang menyebar di atmosfer dapat memengaruhi penyebaran cahaya sehingga warna langit maupun Bulan tampak berbeda dari biasanya.

Kondisi tersebut hanya terjadi apabila ukuran partikel di atmosfer berada pada tingkat tertentu yang memungkinkan cahaya merah tersaring lebih kuat.

Pengamat astronomi disarankan memilih lokasi dengan tingkat polusi cahaya rendah agar Blue Moon terlihat lebih jelas.

Area terbuka seperti pegunungan, pantai, atau pedesaan menjadi pilihan ideal untuk menikmati fenomena tersebut.

Selain dapat diamati dengan mata telanjang, penggunaan teleskop maupun binokular juga membantu melihat detail permukaan Bulan secara lebih optimal.

Jika cuaca cerah, masyarakat Indonesia berkesempatan menikmati salah satu fenomena langit paling menarik pada akhir Mei 2026. (opy)