BPOM RI Peringatkan Ancaman Pangan Lintas Negara, ASEAN Diminta Perkuat Respons Darurat

BPOM mendorong ASEAN memperkuat sistem tanggap darurat keamanan pangan berbasis sains demi melindungi kesehatan, perdagangan, dan kepercayaan masyarakat kawasan.

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:00 WIB
BPOM RI Peringatkan Ancaman Pangan Lintas Negara, ASEAN Diminta Perkuat Respons Darurat
Kepala BPOM Taruna Ikrar usai membuka ASEAN Food Safety Emergency Response (FSER) Tabletop Simulation Exercise. Foto: BPOM for Hallonews

HALLONEWS.ID – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa ancaman keamanan pangan kini tidak lagi mengenal batas negara.

Kompleksitas rantai pasok global membuat satu insiden pangan berpotensi berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat, mengganggu perdagangan, hingga menurunkan kepercayaan konsumen di kawasan.

Karena itu, Taruna menilai negara-negara ASEAN perlu memperkuat sistem tanggap darurat keamanan pangan yang terintegrasi, cepat, berbasis sains, serta didukung koordinasi lintas negara.

“Dalam rantai pasok pangan yang semakin saling terhubung, satu insiden keamanan pangan dapat dengan cepat melampaui batas negara, berdampak pada kesehatan masyarakat, mengganggu perdagangan, dan mengikis kepercayaan konsumen,” ujar Taruna saat membuka ASEAN Food Safety Emergency Response (FSER) Tabletop Simulation Exercise di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti delegasi, pakar, fasilitator, dan perwakilan negara anggota ASEAN untuk menguji kesiapan kawasan menghadapi kedaruratan keamanan pangan melalui simulasi lintas negara.

Menurut Taruna, sistem produksi dan distribusi pangan yang semakin terintegrasi secara regional maupun global membuat risiko penyebaran bahaya menjadi semakin tinggi.

Dalam kondisi tersebut, keterlambatan mendeteksi maupun berbagi informasi dapat menyebabkan insiden lokal berkembang menjadi krisis regional.

“Keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama di tingkat regional,” tegasnya.

Taruna mengungkapkan, setiap tahun diperkirakan satu dari 10 orang di dunia mengalami sakit akibat mengonsumsi pangan yang tidak aman, sementara sekitar 420.000 orang meninggal dunia akibat persoalan tersebut.

Data tersebut menunjukkan bahwa keamanan pangan tidak lagi sekadar menjadi urusan regulator, tetapi merupakan bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, kelancaran perdagangan, dan kepercayaan publik.

“Keamanan pangan tidak lagi semata-mata merupakan fungsi regulatori. Ini adalah investasi strategis dalam kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, dan kepercayaan konsumen,” katanya.

Ia menekankan, sistem respons darurat ASEAN harus dibangun di atas empat pilar utama, yakni deteksi dini, pertukaran informasi secara cepat, penilaian risiko berbasis ilmu pengetahuan, serta pengambilan tindakan yang terkoordinasi di tingkat regional.

Kesiapsiagaan Harus Dilatih

Taruna menegaskan kesiapsiagaan tidak bisa dibangun ketika krisis sudah terjadi. Sebaliknya, kapasitas tersebut harus dipersiapkan melalui sistem yang kuat, koordinasi yang efektif, dan latihan simulasi secara berkala.

“Kesiapsiagaan tidak dapat dimulai ketika krisis terjadi. Ia harus dikembangkan sebelumnya melalui sistem yang kuat, koordinasi yang efektif, dan latihan simulasi secara berkala seperti ini,” ujarnya.

Melalui simulasi FSER, negara-negara ASEAN menguji mekanisme tanggap darurat, memvalidasi proses koordinasi dan pengambilan keputusan, mengidentifikasi berbagai kesenjangan, serta memperkuat interoperabilitas sistem keamanan pangan antarnegara.

Menurut Taruna, latihan tersebut penting karena dalam krisis pangan setiap keterlambatan keputusan dapat memperluas paparan masyarakat, meningkatkan biaya penanganan, dan memicu gangguan perdagangan yang lebih besar.

Taruna mengajak seluruh negara anggota ASEAN menjadikan FSER sebagai momentum memperkuat solidaritas kawasan dalam melindungi lebih dari 700 juta penduduk ASEAN

“Marilah kita memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat solidaritas dan komitmen bersama dalam melindungi kesehatan dan kesejahteraan lebih dari 700 juta penduduk di seluruh ASEAN,” katanya.

Ia optimistis hasil simulasi akan memperkuat kesiapsiagaan nasional sekaligus meningkatkan koordinasi regional guna membangun sistem keamanan pangan ASEAN yang semakin tangguh, adaptif, dan dipercaya masyarakat.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan tema Hari Keamanan Pangan Sedunia tahun ini, “From Burden to Solutions, Safe Food Everywhere”, yang menekankan pentingnya sains, kesiapsiagaan, dan kolaborasi dalam membangun sistem keamanan pangan yang berkelanjutan.

“Berinvestasi dalam kesiapsiagaan kedaruratan keamanan pangan berarti berinvestasi dalam pembangunan berkelanjutan dan daya saing jangka panjang ASEAN,” ujar Taruna.

Atas nama Pemerintah Indonesia dan BPOM RI, Taruna juga menyampaikan apresiasi kepada ASEAN Health Cluster 4, Sekretariat ASEAN, dan seluruh negara anggota ASEAN yang terus memperkuat sistem kesiapsiagaan keamanan pangan sejak inisiatif ASEAN FSER dibentuk pada 2020.

Ia menegaskan, ancaman keamanan pangan lintas batas hanya dapat dihadapi melalui kolaborasi regional yang kuat.

Di tengah rantai pasok yang semakin kompleks, kecepatan berbagi informasi, pengambilan keputusan berbasis sains, dan koordinasi antarnegara menjadi kunci untuk mencegah insiden berkembang menjadi krisis regional. (agn)