Haru Sarbini, Buruh Serabutan Asal Serang yang Kini Tak Lagi Khawatir Biaya Sekolah Anak
Program Sekolah Gratis Banten membuat Sarbini, buruh harian di Serang, tak lagi khawatir biaya sekolah anaknya. Kini ia hanya memikirkan kebutuhan perlengkapan belajar.

HALLONEWS.ID – “Yang penting anak bisa sekolah.” Kalimat sederhana itu terlontar dari Sarbini (47), buruh harian lepas asal Kampung Sindang Mandi, Desa Panyerapan, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, saat menceritakan kebahagiaannya setelah putranya diterima di SMK Nurul Huda Baros melalui Program Sekolah Gratis yang digagas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.
Bagi Sarbini, program tersebut bukan sekadar membebaskan biaya SPP. Lebih dari itu, sekolah gratis telah menghapus kegelisahan yang setiap tahun menghantuinya saat memasuki tahun ajaran baru.
Sebagai buruh serabutan, penghasilannya tak pernah menentu. Kadang ia bekerja sebagai kuli bangunan, sesekali memperbaiki instalasi listrik warga, bahkan tak jarang harus menganggur selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Kondisi itulah yang membuat biaya pendidikan menjadi beban terbesar bagi keluarganya yang memiliki tiga orang anak.
“Sebelum ada Program Sekolah Gratis, saya merasa berat. Saya punya tiga anak. Yang pertama masuk SMK, yang kedua SMP, dan yang ketiga SD. Adanya program ini, saya lega dan sangat terbantu. Sekarang tinggal mikirin kebutuhan alat tulis saja,” ujar Sarbini saat ditemui di SMK Nurul Huda Baros, Rabu (15/7/2026).
Putranya, Nabil Ilham Maulana (15), kini resmi menjadi siswa kelas X Jurusan Teknik Listrik di sekolah tersebut pada tahun ajaran 2026/2027.
Sarbini mengaku sempat diliputi kecemasan ketika Nabil memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta. Di satu sisi ia ingin mendukung cita-cita anaknya, namun di sisi lain ia tidak memiliki kepastian penghasilan untuk membayar biaya sekolah.
“Pekerjaan saya tidak setiap hari ada. Kadang kerja seminggu, setelah itu bisa menganggur sampai tiga bulan. Jadi uang yang tadinya buat bayar SPP sekarang bisa ditabung untuk kebutuhan pendidikan anak ke depan,” katanya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Sarbini tidak pernah mematahkan keinginan putranya. Ia membiarkan Nabil menentukan sekolah sesuai minatnya.
“Dia memang dari awal ingin sekolah di sini. Saya tidak memaksakan. Saya mendukung pilihan anak,” ujarnya.
Kini, harapan Sarbini bertumpu pada pendidikan. Ia ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik dibanding dirinya yang harus bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena itu, ia selalu mengingatkan Nabil agar belajar dengan sungguh-sungguh dan menjauhi pergaulan yang dapat merusak masa depan.
“Saya selalu bilang, cari uang itu susah. Sekolah yang benar, jangan ikut tawuran atau pergaulan yang tidak baik. Saya pernah merasakan masa muda yang salah, dan saya tidak ingin anak saya mengulanginya,” ungkapnya.
Sarbini juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Banten Andra Soni dan Wakil Gubernur Achmad Dimyati Natakusumah atas Program Sekolah Gratis yang dinilai sangat membantu masyarakat berpenghasilan rendah.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Andra Soni dan Pak Dimyati. Kalau tidak ada program ini, saya pasti masih waswas karena pekerjaan saya buruh harian lepas, kadang ada kerjaan, kadang lebih banyak menganggur,” katanya.
Ia berharap program tersebut terus dilanjutkan agar semakin banyak keluarga kurang mampu yang dapat merasakan manfaatnya. Bahkan, ia berharap bantuan pendidikan suatu saat dapat menjangkau hingga jenjang perguruan tinggi.
Sebagai informasi, pada tahun ajaran 2025/2026, Program Sekolah Gratis Pemprov Banten telah menjangkau 801 sekolah swasta dengan 60.705 siswa yang telah terverifikasi sebagai penerima manfaat. Program tersebut kembali dilanjutkan pada tahun ajaran 2026/2027 sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat di Provinsi Banten. (iin)
