Pemkot Bogor Genjot PSEL Kayumanis, Target Beroperasi 2029 dan Olah 1.000 Ton Sampah per Hari

Pemkot Bogor mempercepat pembangunan PSEL Kayumanis dengan target beroperasi pada 2029. Fasilitas ini akan mengolah 1.000 ton sampah per hari menjadi listrik sekaligus mengurangi beban sampah Kota Bogor

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:00 WIB
Pemkot Bogor Genjot PSEL Kayumanis, Target Beroperasi 2029 dan Olah 1.000 Ton Sampah per Hari
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim tinjau lokasi PSEL di Kayu Manis, Tanah Sareal. (Foto: Hallonews/Yopy)

HALLONEWS.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mempercepat persiapan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kayumanis di Kecamatan Tanah Sareal sebagai bagian dari strategi besar mengatasi persoalan sampah sekaligus mendukung pengembangan energi baru terbarukan.

Selain PSEL Kayumanis, Kota Bogor juga akan memiliki PSEL di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga,

Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. PSEL Galuga ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028, sedangkan PSEL Kayumanis ditargetkan beroperasi pada 2029.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama jajaran pemerintah meninjau langsung lokasi pembangunan PSEL Kayumanis yang saat ini masih berupa lahan kosong.

Sejumlah alat berat terlihat mengerjakan pembangunan akses jalan menuju lokasi, termasuk pemasangan bronjong di sekitar aliran Sungai Angke.

Dedie mengatakan pembangunan PSEL Kayumanis merupakan hasil dari proses panjang yang mendapat dukungan berbagai kementerian dan lembaga.

“Proyek ini dikawal Menko Pangan, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Dalam Negeri, PLN, Kementerian ESDM, Danantara, Gubernur Jawa Barat, hingga Pemkot Bogor,” ujar Dedie.

Menurutnya, pembangunan PSEL Kayumanis menjadi gelombang kedua setelah proyek PSEL Galuga.

Groundbreaking PSEL Galuga direncanakan berlangsung pada awal Agustus 2026, sementara groundbreaking PSEL Kayumanis dijadwalkan pada November 2026.

Pemkot Bogor kini memprioritaskan penyelesaian akses jalan sepanjang sekitar 1,65 kilometer dari ujung Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) menuju lokasi proyek.

Dedie meminta beberapa titik yang masih menjadi kendala segera diselesaikan, termasuk apabila diperlukan pembebasan lahan dalam skala terbatas.

Seluruh pekerjaan akses jalan ditargetkan rampung pada November 2026. Tahap awal dilakukan melalui anggaran rutin untuk pemadatan jalan, kemudian dilanjutkan dengan betonisasi agar mampu menunjang aktivitas konstruksi maupun operasional PSEL.

Dari sisi tata ruang, lokasi PSEL Kayumanis telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) sebagai kawasan Waste to Energy.

Olah 1.000 Ton Sampah Menjadi Listrik
Dedie menjelaskan PSEL Kayumanis akan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton sampah setiap hari, sedangkan PSEL Galuga mencapai 1.500 ton per hari.

Menurutnya, fasilitas tersebut akan mengubah paradigma pengelolaan sampah dari sekadar membuang menjadi memanfaatkan sampah sebagai sumber energi dan produk bernilai ekonomi.

Pemkot Bogor juga membuka peluang bagi daerah sekitar seperti Kota Depok maupun Kabupaten Bogor untuk memanfaatkan fasilitas tersebut melalui kerja sama pengelolaan sampah.

Selain menghasilkan listrik, kawasan PSEL Kayumanis juga akan dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) skala kota serta fasilitas pengolahan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA).

Material sisa pembakaran nantinya dapat dimanfaatkan menjadi paving block, kanstin, batako hingga berbagai produk konstruksi lainnya sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomi dari residu pengolahan sampah.

Kurangi Ketergantungan BBM Impor
Pembangunan PSEL juga menjadi bagian dari program nasional dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor.

Pemerintah pusat menargetkan pembangunan 32 unit PSEL di berbagai daerah. Masing-masing fasilitas diproyeksikan mampu mengolah 1.000–1.500 ton sampah per hari dengan potensi menghasilkan listrik sekitar 34 megawatt (MW).

Teknologi pembakaran modern yang digunakan diklaim mampu menekan emisi jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.

Di Kota Bogor sendiri, produksi sampah harian terus meningkat. Saat ini armada pengangkut hanya mampu membawa sekitar 700–800 ton sampah ke TPA setiap hari.

Sekitar 300 ton sisanya berpotensi dibakar secara liar, dibuang ke sungai, atau menumpuk di lahan kosong.

Karena itu, PSEL diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang terintegrasi dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) serta budaya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira Gusniawan, memastikan kebutuhan air operasional PSEL telah diperhitungkan agar tidak mengganggu layanan air bersih bagi masyarakat.

Menurutnya, setiap satu ton sampah membutuhkan sekitar satu meter kubik air dalam proses pengolahan.

Dengan kapasitas 1.000–1.500 ton per hari, kebutuhan air diperkirakan mencapai 1.000 hingga 1.500 meter kubik setiap hari.

Perumda Tirta Pakuan menyiapkan tiga skenario penyediaan air, yakni memanfaatkan jaringan distribusi eksisting dengan kuota khusus, menerapkan sistem sirkulasi air industri, serta membangun intake dan instalasi pengolahan air (WTP) mandiri dari sumber sungai sekitar lokasi.

Rino menegaskan pasokan air industri harus tetap terjamin tanpa mengurangi kebutuhan pelanggan rumah tangga.

Ia juga menilai kehadiran PSEL berpotensi meningkatkan pendapatan Perumda Tirta Pakuan.

Saat ini pelanggan industri hanya sekitar tiga persen dari total pelanggan, namun menyumbang sekitar 25 persen terhadap pendapatan perusahaan.

Menurutnya, tambahan pelanggan industri seperti PSEL akan memperkuat kondisi keuangan perusahaan sehingga keuntungan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk subsidi silang demi menjaga tarif air bagi pelanggan rumah tangga tetap terjangkau. (opy)