Tiga Bakal Calon Ketua Golkar Kota Bogor Sepakat Tolak Pencalonan Kembali Rusli Prihatevi

Tiga bakal calon Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor, Heri Cahyono, Airlangga Pramada, dan Naufal Haadi, sepakat membangun koalisi menghadapi Musda 2026 serta menyuarakan perlunya regenerasi kepemimpinan

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:50 WIB
Tiga Bakal Calon Ketua Golkar Kota Bogor Sepakat Tolak Pencalonan Kembali Rusli Prihatevi
Ketua DPD Golkar Kota Bogor, Rusli Prihatevi. (Hallonews/dok)

HALLONEWS.ID – Tiga bakal calon Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor, Heri Cahyono, Airlangga Pramada, dan Naufal Haadi, menyatakan komitmen untuk membangun kebersamaan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Bogor.

Dalam pertemuan ini, ketiganya sepakat mengusung semangat perubahan di tubuh Partai Golkar Kota Bogor.

Mereka juga menyatakan sikap politik yang sama dengan tidak mendukung pencalonan kembali Rusli Prihatevi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor periode 2026–2031.

Menurut ketiga bakal calon, sikap tersebut didasarkan pada evaluasi terhadap kondisi organisasi selama kepemimpinan Rusli.

Mereka menilai partai membutuhkan pembaruan tata kelola, penguatan organisasi, serta regenerasi kepemimpinan agar mampu menghadapi tantangan politik ke depan.

Dalam pernyataan bersama, mereka menyampaikan sejumlah alasan yang melatarbelakangi sikap tersebut.

Salah satunya terkait pola kepemimpinan yang dinilai kurang demokratis. Mereka mencontohkan pemberhentian Budi Kurniawan dari jabatan Ketua Pengurus Kecamatan (PK) Partai Golkar Kecamatan Bogor Selatan yang disebut tidak melalui mekanisme organisasi secara terbuka.

Selain itu, mereka juga mempertanyakan transparansi dalam pengelolaan organisasi, termasuk aspek keuangan partai.

Menurut mereka, Fraksi Partai Golkar di DPRD Kota Bogor dinilai belum memiliki keleluasaan dalam menjalankan kewenangannya karena berada dalam pengawasan yang dianggap terlalu ketat.

Ketiga bakal calon juga menilai kepengurusan partai belum berjalan secara aktif dan solid. Mereka menyebut tingkat kehadiran pengurus dalam sejumlah rapat pleno relatif rendah sehingga beberapa rapat disebut tidak memenuhi kuorum dan berpotensi memengaruhi legitimasi keputusan organisasi.

Mereka juga berpandangan bahwa, kepemimpinan partai lebih berorientasi pada kepentingan personal dibandingkan penguatan kelembagaan.

Di sisi lain, mereka menyoroti dinamika sikap politik Rusli Prihatevi yang dinilai berubah-ubah, mulai dari keinginan maju sebagai calon Wali Kota Bogor, kembali menjadi anggota DPRD, sempat dikaitkan dengan kepengurusan Partai Golkar Jawa Barat, hingga kembali mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor.

Menurut mereka, kondisi tersebut menimbulkan kebingungan di kalangan kader dan dinilai menghambat proses regenerasi kepemimpinan.

Ketiga bakal calon juga menyinggung belum terealisasinya pembangunan kantor DPD Partai Golkar Kota Bogor yang sebelumnya pernah dijanjikan saat Rusli terpilih sebagai ketua.

Selain itu, mereka menilai terpilihnya Rusli pada Musda sebelumnya merupakan hasil kompromi politik dalam forum Musda, bukan semata-mata berdasarkan dukungan mayoritas pengurus kecamatan.

Meski sama-sama maju sebagai bakal calon ketua, Heri Cahyono, Airlangga Pramada, dan Naufal Haadi menegaskan akan menjaga soliditas serta tidak saling menjatuhkan selama proses Musda berlangsung.

Mereka juga berkomitmen mendukung salah satu di antara mereka yang nantinya memperoleh dukungan terbesar untuk menghadapi Rusli Prihatevi dalam pemilihan Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor.

Menurut mereka, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong kepemimpinan yang lebih demokratis, terbuka, akomodatif, serta berorientasi pada kepentingan organisasi.

Ketiganya berharap pelaksanaan Musda DPD Partai Golkar Kota Bogor dapat berlangsung secara jujur, terbuka, demokratis, serta bebas dari tekanan maupun intervensi kepentingan tertentu.

Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Kota Bogor periode 2020–2025, Rusli Prihatevi menanggapi sikap tiga bakal calon tersebut dengan menegaskan bahwa, setiap kader Partai Golkar memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri sebagai ketua.

“Kalau maju itu hak kader. Saya juga sudah menyampaikan secara terbuka dalam rapat pleno, bahwa semua kader boleh maju, tidak ada hambatan ataupun larangan, apalagi tujuannya untuk membesarkan dan memenangkan partai,” ujar Rusli dikutip wartawan media ini Selasa (28/7/2026).

Rusli menegaskan proses pencalonan dalam Musda terbuka bagi seluruh kader yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan organisasi. (opy)