Bapanas Cek Pasar Kopro Jakbar, Temukan Fakta Terkait Harga Daging Sapi
Bapanas cek Pasar Kopro Jakarta Barat, harga daging sapi Rp140 ribu per kg masih sesuai HAP pemerintah.

HALLONEWS.ID – Isu kenaikan harga daging sapi menjelang Ramadan mencuat dari Pasar Kopro, Jakarta Barat. Namun setelah pengecekan langsung di lapangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga masih berada dalam batas acuan pemerintah.
Tim Satgas Saber Pelanggaran Harga dan Mutu Keamanan Pangan Bapanas turun langsung ke Pasar Kopro (Tomang Barat), Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakbar, Rabu (4/3/2026), untuk memverifikasi kondisi harga dan pasokan bahan pangan.
Hasil pemantauan menunjukkan harga daging sapi di pasar tersebut berada di kisaran Rp140.000 per kilogram, sejalan dengan Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah.
Untuk potongan tertentu, harga memang lebih tinggi. Bagian has dalam (tenderloin) dijual sekitar Rp150.000–170.000 per kg, sementara daging sop dengan kandungan lemak sekitar 15 persen diperdagangkan sekitar Rp120.000 per kg.
Mengacu pada Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, HAP hanya mengatur beberapa bagian daging sapi, yakni daging segar/chilled paha depan Rp130.000 per kg dan paha belakang Rp140.000 per kg.
Analis Ketahanan Pangan Ahli Madya Bapanas, Sulistiyorini, mengatakan variasi harga yang muncul di pasar lebih dipengaruhi kualitas potongan dan rantai pasok, bukan lonjakan harga yang tidak wajar.
“Kami turun langsung untuk memastikan kondisi riil di lapangan. Dari hasil pengecekan, harga daging sapi di Pasar Kopro berada di kisaran Rp140 ribu per kilogram. Memang terdapat variasi pada bagian tertentu, namun itu dipengaruhi kualitas dan jenis potongan. Secara umum pasokan tersedia dan aktivitas perdagangan berjalan normal,” ujar Sulistiyorini.
Pedagang daging sapi di Pasar Kopro juga mengonfirmasi kondisi harga yang relatif stabil.
Pendy, salah satu pedagang, mengatakan harga Rp140.000 per kg merupakan harga standar untuk kualitas yang paling banyak dibeli konsumen.
“Harga Rp140 ribu itu biasa, Pak. Kalau yang kualitas lebih bagus memang bisa Rp160 ribu. Tapi yang Rp140 ribu ini paling standar dan paling laku, bahkan hari ini sudah habis,” ujarnya.
Pemantauan juga mencatat harga komoditas lain cenderung stabil, bahkan ada yang menurun. Harga daging ayam ras berada di kisaran Rp38.000–45.000 per kg, sementara telur ayam ras sekitar Rp31.000 per kg, dengan perbedaan harga antar pedagang.
Benny, pedagang ayam, mengaku harga justru turun dibanding hari sebelumnya. “Saya jual Rp38.000 per kilo. Kemarin masih Rp40.000, hari ini turun Rp2.000,” katanya.
Hal serupa terjadi pada komoditas telur. Perwakilan Toko Lucky menyebut harga telur dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan.
“Dua hari lalu masih Rp33.000, sekarang sudah Rp31.000. Semoga bisa terus turun sampai Lebaran. Biasanya mendekati Lebaran orang bikin kue, kalau bisa di bawah Rp30.000 biar pelanggan tidak komplain,” ujarnya.
Pengawasan terhadap harga bahan pokok juga melibatkan aparat kepolisian. Kepala Subdirektorat Industri dan Perdagangan (Kasubdit Indag) Polda Metro Jaya, AKBP Muh Ardila Amry, menegaskan monitoring akan terus dilakukan untuk mencegah praktik spekulasi harga.
“Monitoring ini kami lakukan untuk memastikan harga bahan pokok tetap stabil dan ketersediaannya aman bagi masyarakat. Kami juga mengingatkan para pedagang maupun distributor agar tidak melakukan praktik penimbunan atau memainkan harga yang dapat merugikan masyarakat, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri,” ujarnya.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah siap menindak pelaku usaha yang mencoba memanfaatkan momentum Ramadan untuk menaikkan harga secara tidak wajar.
“Kami sudah koordinasi dengan Kapolri dan Kabareskrim. Kalau ada yang bermain, kejar dan tindak. Jangan permainkan nasib rakyat, apalagi di bulan suci Ramadan,” kata Amran saat rapat koordinasi SPHP daging ayam dan Minyakita di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Pemerintah menilai stabilitas harga bahan pokok menjelang Ramadan dan Idulfitri menjadi indikator penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan potensi spekulasi di rantai distribusi pangan. (gaa)
