Cuaca Ekstrem Terjang Sejumlah Daerah, BNPB Catat Korban Jiwa dan Kerusakan Meluas
Cuaca ekstrem melanda berbagai wilayah Indonesia. BNPB mencatat korban jiwa hingga ratusan rumah rusak akibat hujan lebat dan angin kencang.

HALLONEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 10–11 April 2026.
Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang menjadi pemicu utama berbagai kejadian, mulai dari banjir, pohon tumbang, hingga kerusakan infrastruktur dan korban jiwa.
Jawa Tengah dan Jawa Barat Terdampak Parah
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa beberapa wilayah di Pulau Jawa mengalami dampak signifikan.
“Di Kabupaten Wonosobo, hujan deras selama beberapa jam menyebabkan kerusakan di sejumlah kecamatan,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
BNPB mencatat: 21 rumah rusak ringan, 10 rumah terdampak, 5 kendaraan rusak, jaringan listrik dan akses jalan terganggu akibat pohon tumbang.
Sementara itu di Kabupaten Banyumas, banjir terjadi akibat luapan sungai dan jebolnya tanggul. Meski air mulai surut, lumpur dan kerusakan masih ditangani petugas bersama warga.
Korban Jiwa di Sulawesi Selatan
Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, cuaca ekstrem menimbulkan dampak lebih serius.
Angin kencang menyebabkan pohon tumbang yang menimpa tenda hajatan warga, mengakibatkan: 1 orang meninggal dunia, dan 8 orang mengalami luka-luka.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa.
Bogor dan Bandung Alami Kerusakan Infrastruktur
Di Jawa Barat, dampak cuaca ekstrem juga meluas. Di Kabupaten Bogor, pohon tumbang mengakibatkan: akses jalan terputus, belasan,rumah rusak, dan fasilitas pendidikan terdampak.
Sementara di Kabupaten Bandung, BNPB mencatat: 7 rumah rusak berat, puluhan rumah rusak sedang dan ringan, kerusakan fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan jembatan.
“Kerusakan juga meluas ke fasilitas umum dan infrastruktur,” kata Abdul.
Dampak Gempa Flores Timur Masih Berlanjut
Selain bencana akibat cuaca, BNPB juga melaporkan perkembangan pascagempa di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terjadi pada 8 April 2026.
Hingga 11 April 2026: 285 kepala keluarga terdampak, lebih dari 1.300 jiwa terdampak, dan ratusan rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
Sebagian warga masih bertahan di pengungsian, sementara pemerintah daerah bersama BPBD terus menyalurkan bantuan dan mendirikan pos layanan darurat.
BMKG: Potensi Hujan Masih Tinggi
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan potensi hujan sedang hingga lebat masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi: Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana lanjutan seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Warga diminta menghindari daerah rawan, segera evakuasi jika hujan deras berlangsung lama, dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah.
Selain itu, pemerintah daerah juga diminta memastikan kesiapan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta ketersediaan logistik darurat.
Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrem kini menjadi ancaman nyata di berbagai wilayah Indonesia.
Kesiapsiagaan masyarakat dan respons cepat pemerintah menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana ke depan. (dul)
