Dewan Nilai Kenaikan Tarif TransJakarta Belum Tepat di Tengah Ekonomi Sulit
DPRD DKI Jakarta menilai kenaikan tarif TransJakarta belum tepat dilakukan karena kondisi ekonomi masyarakat sedang tertekan dan daya beli melemah.

HALLONEWS.ID – Wacana kenaikan tarif bus TransJakarta perlu dipertimbangkan secara matang di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil.
Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Dimaz Raditya menjelaskan situasi ekonomi saat ini sedang memberikan tekanan besar kepada masyarakat.
Kenaikan harga berbagai kebutuhan serta melemahnya daya beli dinilai menjadi faktor utama yang harus diperhatikan pemerintah.
“Sekarang ini kondisi ekonomi sedang berat. Banyak harga naik, nilai dolar juga meningkat. Kalau tarif dinaikkan sekarang, tentu masyarakat akan semakin terbebani,” ujarnya pada Selasa (26/5/2026).
Ia mengakui pemerintah daerah memang menghadapi dilema karena kapasitas APBD DKI Jakarta ikut tertekan akibat turunnya Dana Bagi Hasil dari pemerintah pusat.
Akibat kondisi tersebut, berbagai program daerah ikut terdampak, termasuk kebutuhan subsidi transportasi publik yang nilainya sangat besar.
Meski demikian, Dimaz menegaskan kebijakan kenaikan tarif tidak boleh dilakukan secara terburu-buru hanya demi mengurangi subsidi.
“Yang harus dipikirkan adalah bagaimana masyarakat tetap bisa mendapatkan layanan transportasi murah tanpa APBD terus terbebani,” katanya.
Lanjutnya, karena itu, DPRD DKI Jakarta meminta TransJakarta mencari inovasi dan sumber pendapatan baru agar subsidi dapat ditekan tanpa harus langsung membebankan biaya tambahan kepada penumpang.
Ia menambahkan opsi kenaikan tarif hingga kini masih dalam tahap kajian dan belum menjadi keputusan resmi.
“Masih dikaji. Itu baru salah satu opsi, belum keputusan final,” ucap Dimaz. (fer)
