Jembatan Ambruk di Bogor, Diduga Ada Kelemahan dalam Pembangunannya

Jembatan di Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, ambruk akibat luapan Sungai Citempuhan, Rabu (15/4/2026) sore. Diduga ada kelalaian pada proses pembangunannya.

Jumat, 17 April 2026 - 14:00 WIB
Jembatan Ambruk di Bogor, Diduga Ada Kelemahan dalam Pembangunannya
Jembatan roboh dampak dari hujan deras yang akibatkan debit air sungai naik. Foto: Dok warga for Hallonews

HALLONEWS.COM — Jembatan penghubung antara Desa Rabak dan Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, ambruk pada Rabu (15/4/2026) sore akibat luapan Sungai Citempuhan.

Ironisnya, jembatan tersebut baru sekitar dua bulan diresmikan, meski dibangun dengan anggaran mencapai Rp1 miliar.

Peristiwa ini menimbulkan sorotan tajam terkait kualitas pembangunan infrastruktur desa, terutama mengingat usia jembatan yang sangat singkat sebelum akhirnya roboh.

Kepala Desa Gobang, Abdilah Awali, menjelaskan bahwa kerusakan sebenarnya sudah mulai terlihat sejak awal April.

Erosi dilaporkan telah mengikis pondasi jembatan pada 3 April 2026, namun kondisi tersebut memburuk setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

“Awalnya sudah ada erosi di bagian tiang pondasi, lalu hujan deras menyebabkan debit air meningkat hingga akhirnya jembatan terputus di bagian tengah,” ujar Abdilah dikutip wartawan media ini Jumat (17/4/2026).

Jembatan dengan panjang bentangan 32 meter, lebar 3,5 meter, dan tinggi 5 meter itu didanai melalui bantuan keuangan infrastruktur desa sebesar Rp1 miliar.

Dengan nilai anggaran sebesar itu, masyarakat mempertanyakan kualitas konstruksi yang dinilai tidak mampu bertahan bahkan dalam hitungan bulan.

Selain memutus akses antar desa, luapan Sungai Citempuhan juga menyebabkan genangan di permukiman padat penduduk sekitar lokasi.

Tembok bangunan PAUD dan TPA Alhikmah dilaporkan jebol, sementara sejumlah fasilitas pendidikan seperti buku dan material lainnya hanyut terbawa arus.

Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil cukup besar. Sebuah sepeda motor jenis ninja, perhiasan, serta uang tunai hasil panen warga senilai Rp90 juta dilaporkan hilang terbawa banjir. Selain itu, satu rumah warga mengalami kerusakan parah.

Peristiwa ini memunculkan dugaan adanya kelemahan dalam perencanaan maupun pelaksanaan proyek.

Dengan anggaran yang tergolong besar untuk skala desa, publik kini menuntut adanya evaluasi menyeluruh, termasuk audit teknis terhadap desain, kualitas material, serta pengawasan pembangunan jembatan tersebut.

Ambruknya jembatan dalam waktu singkat ini menjadi peringatan keras akan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pembangunan infrastruktur, khususnya yang menggunakan dana publik. (opy)