Juni 2026 Jadi Awal Kemarau Ekstrem, BNPB: Indonesia Siaga Karhutla dan Kekeringan

BNPB memprediksi musim kemarau 2026 lebih panjang dan kering. Ancaman karhutla, kekeringan ekstrem, hingga krisis air bersih mulai diwaspadai.

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:27 WIB
Juni 2026 Jadi Awal Kemarau Ekstrem, BNPB: Indonesia Siaga Karhutla dan Kekeringan
Petugas berjibaku memadamkan karhutla di tengah ancaman kemarau ekstrem. Foto/Ilustrasi/BNPB for Hallonews

HALLONEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperingatkan musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering lebih panjang. Kondisi itu diprediksi memicu ancaman kekeringan ekstrem, krisis air bersih hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Juli hingga Oktober 2026, seiring meningkatnya pengaruh fenomena El Nino dan anomali iklim global,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari kepada Hallonews, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, pemerintah daerah diminta mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau panjang.

“Perlu mewaspadai Karhutla dengan memastikan kesiapsiagaan masyarakat, BPBD, dan relawan terkait langkah penanganannya,” ucapnya.

BNPB mencatat hingga 20 Mei 2026 Indonesia sudah dilanda ratusan bencana hidrometeorologi. Berdasarkan data BNPB per Maret 2026, terdapat 671 kejadian bencana yang didominasi banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor akibat tingginya curah hujan.

Rangkaian bencana tersebut menyebabkan ratusan ribu warga terdampak dan mengungsi, bahkan menimbulkan korban jiwa di sejumlah daerah.

Meski beberapa wilayah masih diguyur hujan, BNPB menilai ancaman kekeringan tetap harus diantisipasi sejak dini.

Pemerintah daerah diminta menyiapkan rencana kontinjensi, mulai dari penyediaan air bersih, penguatan mitigasi lingkungan, hingga optimalisasi program Desa Tangguh Bencana (Destana).

Abdul Muhari menjelaskan, prediksi curah hujan musim kemarau 2026 berada di kategori bawah normal atau lebih kering dibanding kondisi klimatologis biasanya. Situasi itu membuat risiko kekeringan semakin besar mulai Juni 2026.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjelaskan musim kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena berbeda.

Namun dampak serius bisa terjadi ketika keduanya berlangsung bersamaan.

“Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau, fase El Nino sedang aktif. Kondisi seperti ini pernah terjadi pada 2015, 2019, dan 2023,” kata Faisal.

Menurut dia, musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia akibat dinamika fenomena iklim global.

Kondisi tersebut dipengaruhi peluang munculnya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif yang menurunkan curah hujan.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan kondisi tersebut dapat memicu kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan pada sektor pangan dan sumber daya air.

“Upaya antisipasi harus dilakukan sejak awal, termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan informasi peringatan dini tersampaikan hingga tingkat daerah,” kata Guswanto

BMKG juga memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi diguyur hujan lebat pada periode 18-24 Mei 2026.

Daerah yang diminta waspada antara lain Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua Pegunungan.

Hingga Kamis 21 Mei 2026, titik panas atau hotspot memang masih relatif rendah. Namun sejumlah wilayah di Sumatera, Jawa, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua mulai memasuki kondisi yang lebih mudah terbakar sehingga risiko karhutla tetap perlu diwaspadai.

BMKG juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan bencana hidrometeorologi jika kondisi cuaca memburuk. Karena itu, masyarakat diminta mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan panjang dan karhutla. (dul)