Suporter Bola Tak Lagi Sekadar Fans, Kini Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Lewat Koperasi

LPDB Koperasi dorong suporter sepak bola bentuk koperasi. Potensi bisnis dari merchandise hingga kafe dinilai bisa jadi sumber ekonomi baru komunitas.

Senin, 4 Mei 2026 - 17:30 WIB
Suporter Bola Tak Lagi Sekadar Fans, Kini Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Lewat Koperasi
Pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi mendorong suporter untuk naik kelas menjadi pelaku ekonomi melalui pembentukan koperasi berbasis komunitas. Foto LPDB Koperasi for Hallonews

HALLONEWS.ID — Dunia sepak bola Indonesia kini tak hanya soal pertandingan di lapangan. Pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi mulai mendorong suporter untuk naik kelas menjadi pelaku ekonomi melalui pembentukan koperasi berbasis komunitas.

Langkah ini diwujudkan lewat kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis yang melibatkan perwakilan suporter dan pengurus klub dari berbagai daerah. Tujuannya jelas mengubah loyalitas suporter menjadi kekuatan ekonomi yang terorganisir dan berkelanjutan.

Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman, menyebut komunitas suporter memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk dikembangkan menjadi koperasi modern.

“Basis fans sepak bola di Indonesia sangat besar. Banyak peluang yang bisa dikembangkan, mulai dari penjualan tiket, merchandise, event, nonton bareng, hingga usaha kafe,” ujarnya.

Menurut Deva, selama ini aktivitas ekonomi di kalangan suporter sudah ada, namun belum dikelola secara optimal.

Dengan sistem koperasi, potensi tersebut bisa diatur lebih profesional, transparan, dan memberikan manfaat langsung bagi anggota.

Ia juga mencontohkan praktik di luar negeri, di mana sejumlah klub besar dunia telah menerapkan sistem kepemilikan berbasis anggota, yang sejalan dengan prinsip koperasi.

Selain itu, LPDB menawarkan skema pembiayaan yang dinilai lebih ringan dibanding lembaga keuangan konvensional.

Fasilitas ini mencakup pembiayaan modal kerja hingga lima tahun dan investasi sampai sepuluh tahun, tanpa biaya administrasi maupun penalti pelunasan dipercepat.

Inisiatif ini mendapat sambutan positif dari komunitas suporter. Sekretaris Umum PP The Jak Mania, Muhammad Aditya Putra, menilai peluang ekonomi di lingkungan suporter sangat besar dan perlu pendampingan.

“Potensi ekonomi di kalangan suporter itu nyata. Sudah saatnya dikelola lebih serius dan kami sangat mendukung langkah ini,” katanya.

Dukungan juga datang dari operator kompetisi sepak bola nasional, I.League. Perwakilannya, Syifa Nadhila, menyebut koperasi bisa menjadi jembatan untuk memperkuat keterlibatan suporter dalam ekosistem sepak bola.

Menurutnya, basis penggemar klub di Indonesia sangat luas dan tersebar di berbagai daerah, sehingga koperasi bisa menjadi sarana untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

Ke depan, LPDB Koperasi tidak hanya akan menyasar sepak bola, tetapi juga komunitas olahraga lain seperti bulutangkis dan basket.

Deva berharap, koperasi berbasis suporter ini mampu meningkatkan posisi tawar komunitas, sekaligus menarik lebih banyak generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi yang produktif.

“Bukan hanya suporter, tapi juga fans club yang jumlahnya jauh lebih besar. Ini peluang besar untuk membangun ekonomi berbasis komunitas,” pungkasnya. (vera)