Try Sutrisno Wafat: Jenderal yang Pernah Berdiri di Simpang Sejarah Republik

Mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno meninggal dunia pada Senin, 2 Maret 2026. Simak perjalanan karier dan jejak sejarahnya dari militer hingga menjadi wapres di masa transisi Indonesia

Senin, 2 Maret 2026 - 12:18 WIB
Try Sutrisno Wafat: Jenderal yang Pernah Berdiri di Simpang Sejarah Republik

HALLONEWS.ID – Kabar duka datang dari panggung sejarah nasional. Jenderal (Punr) Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) pagi.

Try Sutrisno mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan akibat sakit yang dideritanya dalam beberapa waktu terakhir. Kabar wafatnya segera menyebar dan memantik ucapan duka dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh militer hingga politisi lintas generasi.

Bagi sebagian orang, Try Sutrisno adalah jenderal lapangan. Bagi yang lain, ia adalah figur transisi di masa ketika Indonesia sedang berada di simpang perubahan.

Try lahir di Surabaya, Jawa Timur, dan meniti karier panjang di militer. Ia pernah menjabat Panglima ABRI sebelum akhirnya dipilih menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1993–1998.

Masa jabatannya berada di ujung era Orde Baru—periode yang penuh dinamika, tekanan ekonomi, dan gelombang kritik politik. Di tengah situasi itu, Try dikenal sebagai figur yang tenang dan jarang tampil meledak-ledak di ruang publik.

Ia bukan tipe politisi yang gemar retorika. Gaya bicaranya datar, sikapnya cenderung lurus. Namun posisinya menempatkan dia tepat di jantung kekuasaan pada masa yang menentukan arah sejarah Indonesia.

Saat krisis ekonomi 1997–1998 menghantam Asia dan mengguncang Indonesia, Try berada di lingkar inti pemerintahan. Ia menyaksikan langsung perubahan besar yang kemudian berujung pada lengsernya Soeharto dan lahirnya era Reformasi.

Sejarah mencatat namanya sebagai wakil presiden terakhir di era tersebut. Sebuah posisi yang membuatnya selalu dikaitkan dengan periode paling krusial dalam perjalanan republik modern.

Meski demikian, selepas tak lagi menjabat, Try relatif jarang tampil dalam hiruk-pikuk politik. Ia lebih banyak berada di belakang layar, sesekali memberikan pandangan tentang kebangsaan dan stabilitas nasional.

Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai tokoh nasional. Banyak yang mengenang Try sebagai prajurit yang disiplin dan pejabat negara yang menjaga etika jabatan.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI Prasetyo Hadi menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia Try Sutrisno. Menurutnya, Try Sutrisno adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia.

“Kita merasakan dukacita yang sangat mendalam, beliau adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang telah mengabdikan diri mendarmabaktikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara” kata Prasetyo kepada wartawan, Senin (2/3/2026).

Prasetyo mengajak publik mendoakan almarhum agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Kepergian Try Sutrisno menutup satu lagi bab dari generasi pemimpin yang lahir dan besar dalam tradisi militer Orde Baru. Generasi yang membentuk, sekaligus dibentuk, oleh dinamika politik Indonesia selama puluhan tahun.

Kini, nama Try Sutrisno kembali disebut. Bukan dalam perdebatan politik, melainkan dalam doa dan kenangan. (gaa)