Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

Kementerian Kehutanan melepasliarkan dua Elang Jawa dan meresmikan Lembah Aviary Paseban serta Penangkaran Rusa guna memperkuat konservasi satwa liar dan pemulihan ekosistem

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:00 WIB
Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung
Hallonews foto: Elang Jawa yang mulai langka, kembali dijaga habitatnya oleh kementrian kehutanan.

HALLONEWS ID – Kementerian Kehutanan memperkuat upaya pelestarian satwa liar dan pemulihan ekosistem melalui pelepasliaran dua individu Elang Jawa serta peresmian Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah konservasi keanekaragaman hayati yang melibatkan berbagai pihak dalam menjaga kelestarian salah satu bentang alam penting di Pulau Jawa.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, yang mewakili Menteri Kehutanan, menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ia menilai berbagai program yang dijalankan di Megamendung menunjukkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati dapat berjalan beriringan dengan upaya pembangunan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, dua Elang Jawa yang dilepasliarkan adalah seekor betina bernama Agni dan seekor jantan bernama Beta.

Keduanya telah menjalani proses rehabilitasi, habituasi, dan evaluasi teknis selama kurang lebih dua tahun enam bulan sebelum dinyatakan siap kembali ke habitat alaminya.

Agni merupakan hasil rehabilitasi dari Pusat Konservasi Elang Kamojang, sementara Beta berasal dari Yayasan Konservasi Cikananga.

Untuk mendukung proses pemantauan setelah dilepasliarkan, kedua satwa dilengkapi perangkat GPS tracker yang memungkinkan tim konservasi memantau pergerakan dan tingkat adaptasi mereka di alam liar.

“Sebagai satwa endemik Pulau Jawa yang dilindungi negara, Elang Jawa memiliki peran penting dalam ekosistem,” kata Satyawan dikutip wartawan media ini Rabu (10/6/2026).

“Keberadaannya sering dijadikan indikator kesehatan hutan pegunungan dan menjadi salah satu spesies prioritas dalam program konservasi nasional,” ujarnya lagi.

Selain pelepasliaran satwa, Kementerian Kehutanan juga meresmikan Lembah Aviary Paseban yang dikembangkan sebagai fasilitas konservasi ex-situ nonkomersial.

Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung pelestarian berbagai jenis burung Indonesia melalui kegiatan pendidikan lingkungan, penelitian, pengembangbiakan, hingga program pelepasliaran satwa ke habitat alaminya.

Pada kesempatan yang sama, Penangkaran Rusa Timor turut diresmikan sebagai sarana konservasi sekaligus edukasi lingkungan.

Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat membantu menjaga populasi satwa serta memperkuat fungsi ekologis kawasan Megamendung.

Program konservasi di kawasan tersebut dikembangkan oleh Yayasan Paseban melalui pendekatan yang mengintegrasikan pemulihan ekosistem, pelestarian keanekaragaman hayati, pertanian organik, penelitian, pendidikan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.

Pembina Yayasan Paseban, Andy Utama, mengatakan bahwa berbagai program yang dijalankan bertujuan mendukung pemulihan fungsi ekologis Megamendung dalam jangka panjang.

Menurutnya, upaya tersebut diarahkan untuk menjaga habitat satwa liar, melindungi sumber daya air, dan mewariskan kondisi lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Sementara itu, Penasihat Yayasan Paseban, Wiratno, menilai kawasan Megamendung memiliki posisi strategis dalam menjaga keseimbangan ekologis Jawa Barat karena terhubung dengan bentang alam yang lebih luas, termasuk kawasan Cagar Biosfer Cibodas.

Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut tidak hanya menjadi habitat berbagai satwa liar, tetapi juga berperan penting dalam menjaga fungsi lingkungan yang memberikan manfaat bagi masyarakat hingga wilayah hilir.

Saat ini, Lanskap Megamendung masih menjadi rumah bagi sejumlah satwa penting seperti Elang Jawa, Owa Jawa, Surili Jawa, Lutung Jawa, Trenggiling Sunda, Garangan, Landak Jawa, serta beragam jenis burung hutan.

Keberadaan berbagai spesies tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini masih memiliki nilai ekologis yang tinggi meskipun menghadapi tekanan pembangunan yang terus meningkat di Pulau Jawa. (opy)