Ditipu Modus Link Haji Kilat, Pedagang Pecel Lele di Bekasi Kehilangan Rp600 Juta

Pedagang pecel lele di Bekasi kehilangan Rp600 juta, tabungan haji selama 20 tahun, setelah tertipu modus percepatan keberangkatan.

Selasa, 14 April 2026 - 15:30 WIB
Ditipu Modus Link Haji Kilat, Pedagang Pecel Lele di Bekasi Kehilangan Rp600 Juta
Kepala Kantor Haji dan Umrah Kota Bekasi Rian Fauzi. Foto: Hallonews

HALLONEWS.ID – Mimpi itu dibangun pelan-pelan, dari hasil jualan di pinggir jalan yang disisihkan selama bertahun-tahun. Bagi NH (40) dan keluarganya di Bekasi, ibadah haji bukan sekadar rencana, melainkan tujuan hidup yang ditabung hampir dua dekade.

Namun semua itu runtuh dalam sekejap. Bukan karena gagal berangkat, bukan karena sakit, melainkan karena sebuah pesan WhatsApp. Pesan itu datang dengan nada meyakinkan terkait keberangkatannya menunaikan ibadah haji.

Seseorang di seberang telepon mengaku sebagai petugas dari instansi pemerintah yang mengurusi haji. Ia menawarkan sesuatu yang sulit ditolak: percepatan keberangkatan ke Tanah Suci tanpa harus menunggu antrean panjang.

Di tengah lamanya daftar tunggu haji, tawaran itu terdengar seperti jalan pintas menuju impian. NH percaya. Percakapan berlanjut. Korban diminta melakukan pembaruan data administrasi, mulai dari KTP elektronik hingga verifikasi wajah.

Semuanya terasa resmi. Bahkan pelaku menyebut akan ada barcode dari Dukcapil sebagai bukti validasi data. Tak ada yang terasa janggal hingga sebuah tautan dikirim. Begitu diklik, semuanya langsung berubah.

Ponsel korban mendadak tidak bisa digunakan. Layar seperti mati, akses terkunci. Dalam kepanikan, NH mencoba mencari tahu apa yang terjadi, tetapi jawaban yang ia dapat justru lebih menghancurkan.

Saat mengecek saldo rekening, uang itu sudah tidak ada. Uang sebesar Rp600 juta lenyap. Dana dari tiga rekening berbeda di Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara Indonesia (BNI) terkuras hampir habis. Yang tersisa hanya ratusan ribu rupiah.

Di ujung telepon, suara NH terdengar berat. Ia belum sanggup menceritakan semuanya.

“Maaf ya, kondisi keluarga masih syok,” ucapnya lirih kepada awak media tanpa banyak bicara.

Laporan pun dilayangkan ke polisi. Kasus ini kini ditangani oleh Polres Metro Bekasi Kota setelah korban NH melapor.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, memastikan penyelidikan tengah berjalan.

“Masih kami selidiki kasus ini,” katanya.

Namun NH bukan satu-satunya korban. Di balik kasus ini, ada pola yang lebih luas dan mengkhawatirkan. Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Kantor Haji dan Umrah Kota Bekasi mencatat setidaknya 20 warga menjadi target penipuan dengan modus serupa.

Mayoritas berhasil selamat sebelum mengalami kerugian, tetapi tidak semuanya seberuntung itu. Salah satu korban adalah pasangan suami istri di Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, pedagang pecel lele yang menggantungkan hidup dari usaha kecil mereka.

Selama sekitar 20 tahun, mereka menabung sedikit demi sedikit hingga akhirnya terkumpul ratusan juta rupiah, cukup untuk mewujudkan satu mimpi besar: berangkat haji. Mimpi itu kini hilang.

“Korban menabung selama 20 tahun, tetapi karena tertipu akhirnya uang Rp600 juta hilang,” kata Kepala Kantor Haji dan Umrah Kota Bekasi, Rian Fauzi, Selasa (14 April 2026).

Rian menegaskan, tidak ada penambahan kuota haji untuk tahun 2026. Tidak ada jalur cepat, dan tidak ada percepatan seperti yang dijanjikan pelaku.

“Kalau ada yang menawarkan berangkat cepat, itu patut dicurigai,” tegasnya.

Rian menuturkan, korban yang diketahui baru mendaftar haji pada tahun 2023 itu tergiur dengan janji percepatan keberangkatan ke Tanah Suci pada tahun ini.

Merasa ada kejanggalan, korban kemudian memeriksa saldo tabungannya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui uang dalam rekening telah terkuras habis.

“Korban mengalami kerugian Rp600 juta, hanya tersisa sekitar Rp400 ribu,” jelas Rian.

Ia menegaskan bahwa informasi terkait percepatan keberangkatan haji tersebut tidak benar. Hingga saat ini, tidak ada penambahan kuota haji untuk tahun berjalan.

Pihaknya juga mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan mengklik tautan dari pihak tidak dikenal serta selalu memverifikasi informasi melalui instansi resmi guna menghindari penipuan serupa. (dul)