Pergerakan Tanah di Babakan Madang Bogor Rusak 7 Rumah, 28 Warga Mengungsi
Hujan deras picu pergerakan tanah di Cijayanti, Babakan Madang, Bogor. Tujuh rumah rusak dan 28 warga terpaksa mengungsi

HALLONEWS.ID – Bencana pergerakan tanah melanda Kampung Cimangurang, RT 04 RW 02, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.
Kejadian ini mengakibatkan kerusakan pada sejumlah rumah warga serta memaksa puluhan orang meninggalkan tempat tinggal mereka.
Peristiwa tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah itu selama beberapa hari terakhir.
Kondisi tanah yang labil di kawasan lereng turut memperparah situasi hingga akhirnya terjadi pergeseran tanah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, Adam Hamdani, menjelaskan bahwa tanda awal bencana muncul pada Kamis (16/4/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Saat itu, terlihat retakan pada tanah dan dinding rumah warga dengan lebar sekitar 10 sentimeter.
Situasi kemudian memburuk ketika hujan deras kembali terjadi pada Minggu malam (20/4/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.
Pergerakan tanah meluas hingga mencapai panjang sekitar 100 meter, dengan pergeseran dari bagian atas ke bawah mencapai 50 meter.
Akibat kejadian tersebut, tujuh rumah warga terdampak, terdiri dari empat unit mengalami kerusakan berat dan tiga unit rusak sedang.
Rumah yang mengalami kerusakan berat dilaporkan mengalami keruntuhan pada bagian dinding, atap, hingga lantai di beberapa ruangan.
Sementara itu, rumah dengan kerusakan sedang menunjukkan retakan pada dinding serta penurunan struktur lantai.
Sebanyak sembilan kepala keluarga atau 28 jiwa terpaksa mengungsi sementara dengan menyewa tempat tinggal di sekitar lokasi terdampak.
Bencana (TRC-PB) BPBD Kabupaten Bogor telah turun ke lapangan untuk melakukan penanganan darurat.
Upaya yang dilakukan meliputi koordinasi dengan aparat setempat, pendataan dampak, analisis kondisi tanah, serta pemberian edukasi kepada warga terkait potensi bahaya lanjutan.
Hingga Selasa (21/4/2026) malam, kondisi di lokasi dilaporkan masih belum stabil. Pergerakan tanah masih terjadi, yang ditandai dengan suara pergeseran dari bangunan di sekitar area terdampak.
Petugas BPBD masih disiagakan untuk memantau perkembangan situasi.
Faktor curah hujan tinggi, kontur tanah yang miring, serta lokasi permukiman yang berada dekat aliran sungai menjadi penyebab utama kerentanan kawasan tersebut terhadap bencana.
“Penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan relokasi warga, masih menunggu kajian dari pihak terkait,” tegasnya. (opy)
